Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Wednesday, June 26, 2013

Ego, nafsu, dan ambisi

Kadang banyak hal yang terjadi dalam hidup kita, dan dari semua hal itu tidak ada yang terlepas dari rasa--rasa sedih, gundah, marah, senang, dan cinta. Kadang juga, ego mengalahkan logika ketika nafsu menyerang nafas berhembus memacu untuk fokus pada hal apa yang kita ingin.

Benar bila ada yang mengatakan, "Ego dan nafsu tidak selalu buruk." Ego, nafsu, dan ambisi bisa menjadi suatu senjata yang efektif dan tepat guna bila digunakan untuk hal yang tepat. Hal itu dapat diukur seberapa baik dan seberapa buruk akibat yang ditimbulkannya.

Sunday, May 26, 2013

Cerita Indah Dari Alumni



Hidup begitu keras mendidik Andi dalam lingkungan keluarga sederhana. Kedua orangtuanya hanyalah seorang petani misikin yang hidup jauh dari pelosok kota hingga tidak banyak yang tahu tentang mereka.
Andi telah tumbuh dewasa dan menjadi mahasiswa di salah satu kampus di  Semarang, Indonesia. Biaya hidup yang menghimpit memaksanya untuk kuliah sambil kerja, jika tidak ia mungkin tidak akan kuliah lagi karena keterbatasan biaya.

Andi akhirnya membuka usaha untuk berjualan keliling kampus untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mau tak mau, dan suka tak suka. Selain itu, ia dari hasil penjualan yang lumayan menguntungkan ia menyewa lahan pertanian untuk bercocok tanam, tampaknya memungkinkan.

Wednesday, May 08, 2013

Karakter Dan Pendidikan Yang Rapuh



Membangun karakter bangsa yang jujur, tegas, tangguh, dan peduli, sebagaimana digariskan dalam Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025, maka kita harus mewujudkan nilai-nilai falsafah Pancasila dalam kehidupan berbangsa yang bersumber dari budaya (lokal) dan agama. (Menko Kesra, Kebijakan Nasionl Pembangunan Karakter Bangsa, Jakarta, Mei 2010)
 
Ujian Nasional (UN) menjadi polemik bagi bangsa Indonesia. Tak tanggung-tanggung standar ujian nasional terus meningkat dari tahun ke tahun, tanpa ada tindak lebih lanjut dalam pembenahan internal, serta guru pun ikut bingung dalam proses mengajar siswa-siswanya. Bagaimana tidak, kebijakan pemerintah yang terkesan provokatif dan egoistis menjadi tekanan mendesak bagi para guru dan siswa-siswi Indonesia. Pemerintah mengabaikan dampak-dampak moral negatif yang lebih besar dibalik kegiatan formal ujian nasional ini.

Selain itu, sumber pendukung seperti sarana dan prasarana yang memadai hanya terkonsentrasi pada sejumlah sekolah saja—beruntung jika sekolah tersebut mampu membiyai fasilitasnya sendiri—bagaiman dengan sekolah-sekolah terpencil, kadang buku sebagai sumber pembelajaran pun belum lengkap, dan masih menggunakan buku-buku lama yang telah berganti kurikulum dan standar. Jika dilakukan survey lapangan maka kebenaran hal ini dapat terungkap.

Wednesday, April 17, 2013

DUNGU: CUKUP MAAFKAN MEREKA



(Karya: Ust. Rijal Ramdhani ‘Fasilitator KIAI UMY’)


Alam lebih dari cukup untuk menyediakan
kebutuhan manusia,
Tapi ko kenapa masih ada krisis air, krisis pangan
dan kelaparan?

Tuhan itu menciptakan perempuan itu sepertinya
jauh lebih banyak,
Tapi ko kenapa masih ada laki-laki yang takut tak
kebagian?