“Sesungguhnya Allah
benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi
kebanyakan mereka tidak mensyukuri (nya)”. (QS. Yunus: 60)
Kawan, hari ini hati dan tanganku tergerak menulis sebuah
nikmat yang sering kita lalaikan dalam mensyukurinya untuk mengingatkan kepada
kita semua sebelum nikmat itu dicabut.
Sungguh sedikit sekali saya meensyukuri nikmat ini. Tahukah
kamu apa nikmat itu? Nikmat itu adalah kehidupan yang damai tanpa perang!
Kawan, ingatkah kamu saat Indonesia berselisih dengan
Malaysia ketika perrebutan Ambalat dan persenggolan dan pencurian budaya
lainnya? Ingat (pula) kah kamu ketika demonstrasi sebagian rakyat Indonesia
yang meminta gencatan senjata?!; Perang.
Kawan, negara kita memang kuat dan memiliki aparatur negara
yang tangguh. Dibalik itu semua ternyata ada nikmat yang tidak kita syukuri,
kedamaian! Kawan, Kita tidak akan disebut dengan generasi yang manja kalau kita
tidak ikut berperang. Musuh yang sebenarnya adalah diri kita sendiri yang akan
mengakibatkan banyak kerugian kepada diri kita sendiri. Dan setan pun hanya
pendorong kita melakukan perbuatan dosa, tapi kita-lah yg diberi Allah pilihan;
memilih berbuat baik ataupun keburukan.
Perang, yang memakan korban-korban di setiap tempatnya; baik
yang terlibat ataupun yang tidak berdosa, mereka mati dalam ketakutan-ketakutan
yang mengerikan.
| Peperangan yang mencekam! |
Jikalau pun kita—yang tidak takut untuk mati dan mampu melindungi diri—bagaimana dengan
orang-orang yang kita cintai dan sayangi? Tentu saja tidak semua dari mereka
yang mempunyai pertahan diri yang kuat, mereka akan terluka, tersakiti,
tersia-siakan, sedangkan hidupnya di dunia ini hanya sekali; entah bertemu
entah tidak di kehidupan selanjutnya!
Kawan, coba kamu bayangkan berada di tengah-tengah
peperangan yang mencekam; dengan tombak-tombak runcing, pedang-pedang beracun,
dan peluru-peluru panas, bom-bom yan siap meledak kapan saja, bukan sakitnya
yang dikhawatirkan, kawan! Tapi Ketajaman ketakutan psikologinya…!!!
Perang menjadikan kebenaran sebagai nilai-nilai tersendiri, hukum
rimba
kekuatan dan strategi, adalah penentu kemenangan, membantai
tubuh-tubuh manusia tanpa ampun, seakan seperti singa yang lapar, atau seperti
drakula yang haus darah.
| Salah satu korban-korban perang |
Dan bayangkan juga ketika orang-orang yang kita sayangi
dlukai, dianiaya tanpa belas kasih tanpa keprimanusiaan, hak-haknya dicabut,
kehidupannya direnggut, bagaimana jiwa kita kawan?! Tidak lagi rasa yang
bermain, tetapi semua fokus kita tertuju satu; maka setelahnya benar-benar
tidak ada kedamaian—bayang-bayang orang yang kita cintai dan sayangi menghantui
seakan kita berdosa atas kehidupan mereka; mereka menghantui agar mau
menolongnya, padahal hal tersebut hanyalah angan-angan, namun begitulah salah
satu psikologi buruk yang dirasakan.
Harga diri yang diinjak-injak akan mengakibatkan kerusakan
dimana-mana, keinginan untuk saling menyakiti; tidak ada lagi rumah/ tempat
tinggal, tidak ada lagi senyuman manis, tidak ada lagi impian, tidak ada lagi
rasa kasih sayang, naluri dan tujuan hanyalah menanti maut, menanti dibunuh,
atau menanti nyawa dicabut ketika lengah, yang pasti adalah menanti pertanggung
jawaban atas dosa-dosa di dunia ini dihadapan Allah Yang Maha Kuasa.
Perhitungan yang adil, detail, dan terperinci. Ketika
kesalahan ditampakkan, ketika aib dibongkar, ketika kemurkaan menunggu! Apalah
arti hidup ini. Bayi-bayi akan memohon agar tidak dilahirkan ke dunia, bumi pun
ingin pergi mengusir, ketika darah terus tumpah dan mayat-mayat bergelimpangan.
Jika bukanlah karena Nikmat Allah Swt, apakah mungkin kita
hidup dalam kehidupan sedamai ini? Bergelut dengan cita-cita, toleransi yang
tinggi, senyum, bercanda ria dengan sesama, memakan makanan yang enak, hidup
dalam kenyamanan dan aman, hidup dicintai dan mencintai, menuntut ilmu, pergi
setiap hari menikmati nikmat-nikmat-Nya, pulang dan tidur nyenyak di atas kasur
yang empuk bertelekan permadani-permadanbi dunia, hingga pagi dibangunkan kembali
bersama orang-orang yang kita cintai. Maka
nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
“Sesungguhnya Allah
benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi
kebanyakan mereka tidak mensyukuri (nya)”. (QS. Yunus: 60 )
Maka saksikanlah atas kesyukuran ini.
TAPI Apabila
perintah untuk membela Agama Allah datang, dan kewajiban jihad menanti maka
marilah Jangan kita takut, jangan gentar…!!!
Layaknya Panglima perang Muhammad
Saw, juga seperti Ibrahim As, seperti Musa As, seperti Daud As, dan seperti
Nuh As atau yang lainnya.
Ketika ragu, ingatlah ketika Allah berfirman:
“Sesungguhnya kekuasan
itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui”. (Qs. Yunus: 66)
“Dan bacakanlah kepada
mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: Hai
kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku
(kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakkal,
karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkankanlah) sekutu-sekutumu (untuk
membinasakanku), Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu
lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. (QS.
Yunus: 71)
Kawan, ketika darurat itu datang ingat dan simaklah ayat itu.
Juga berita tentang keberanian Nabi terdahulu. Tiada ketakutan, tiada
kelemahan, melainkan dihadapan Allah Swt.
Kawan, mari saling mengingatkan. Ingatkan saya, ingatkan keluarga,
ingatkan teman-teman, ingatkan kaum,lalu
Semoga kita hidup dalam kedamaian, hidup dalam kesejahteraan, serta termasuk orang-orang yang diridhai oleh Allah Swt. Segala
puji hanya bagi Allah Swt Tuhan semesta alam.
| Hal-hal kecil yg disyukuri |
| Thanks to Allah Swt |
Ia pak
ReplyDeleteya :)
ReplyDelete