1.
Analisis
Perubahan Perilaku Sosial Terhadap Perkembangan Bisnis Dunia Maya
Seiring
berjalannnya waktu, teknologi semakin berkembang dan zaman pun semakin maju,
serta merubah pola perilaku masyarakat termasuk dalam pola konsumsi.
Berkembangnya teknologi modern seperti berbelanja online berbasis dunia maya
memiliki dampak positif dan negatif yang besar pada berbagai sector, terutama
sector bisnis.
Pola
konsumsi masyarakat yang berubah berdampak pada sector lain yang berhubungan
dengan keseharian masyarakat, sehingga tercipta sebuah pola baru dalam
kehidupan bermasyarakat. Hal ini akan terus terjadi selama manusia terus
berkembang, berkreasi, dan berinovasi
Perusahaan sekarang sedang menghadapi ancaman besar dalam
upaya mereka mengkontrol pembelinya di era internet ini. Perkembangan social
media membawa keleluasaan dan kekuatan yang besar bagi konsumen. Konsumen
dapat dengan bebas mengutarakan ketidakpuasannya kepada sebuah
produk/perusahaan di website pribadinya, jejaring sosial miliknya, dan turut
mempengaruhi ratusan orang yang terkoneksi dengannya. Kekuatan opini dan word
of mouth menjadi sebuah tantangan besar dalam upaya perusahaan mengontrol
pergerakan dan pola perilaku konsumen mereka di era internet ini.
Dalam dunia pemasaran online, ada tiga hal yang konsumen
tuntut agar dihargai oleh pihak perusahaan/marketer. Ketiga hal itu adalah
privasi, kepercayaan, dan efisiensi waktu.
Privasi disini
berbicara mengenai kepentingan konsumen itu sendiri. Konsumen kini dapat
menentukan kapan dan dimana mereka mau menerima iklan ataupun bentuk promosi
lainnya dari sebuah perusahaan. Perusahaan sekarang harus menyesuaikan promosi
dengan kepentingan-kepentingan dari konsumennya masing-masing. Contohnya,
sebuah perusahaan gadget akan lebih efektif mempengaruhi anak muda dengan
menjadi sponsor sebuah acara musik dibandingkan iklan di televisi.
Kepercayaan merupakan hal yang penting dalam melakukan transaksi secara online.
Konsumen memperlukan kepercayaan yang tinggi kepada pihak perusahaan agar mau
melakukan sebuah transaksi dengannya di dunia maya. Transaksi online memerlukan
konsumen untuk menyerahkan beberapa informasi dirinya yang cukup confidental
misalnya nomor kartu kredit ataupun alamat rumahnya. Perusahaan yang
terpercaya akan membuat konsumen semakin nyaman untuk melakukan transaksi
online dengannya.
Dewasa ini, konsumen menjadi semakin menghargai waktu mereka. Perkembangan
dunia yang semakin dinamis membuat mereka menjadi menghargai efisiensi waktu
semakin lebih. Konsumen memerlukan informasi yang mudah didapat juga transaksi
yang cepat dan ringkas dari sebuah website. Merupakan tugas seorang marketer
dan perusahaan untuk mendesain sebuah website yang user friendly, mudah
ditemukan, dan mendukung pergerakan konsumen yang semakin dinamis dan
menghargai waktu.
Konsumen online dibagi menjadi dua macam, konsumen buruk dan konsumen baik.
Konsumen buruk adalah konsumen yang telat membayar, suka menawar harga dan
mudah beralih ke perusahaan lain. Konsumen baik adalah konsumen ideal yang
membayar tepat waktu, memberikan komentar dan informasi, juga feedback ke
perusahaan. Ketika sebuah perusahaan berani melakukan pemasaran secara online,
mereka harus mengetahui konsumen ideal mereka. Mayoritas dari penjualan (80%)
bersumber dari segelintir total konsumen perusahaan (20%). Mereka (20%
tersebut) adalah konsumen yang ideal bagi perusahaan. Konsumen ideal adalah
sumber profit terbesar bagi perusahaan.
Konsumen terbaik nyatanya bukanlah konsumen yang membeli produk-produk dalam
jumlah terbanyak, melainkan seorang konsumen yang membeli produk kita dan membagikan
pengalaman memakai produk kita ke teman-temannya dan mendorong mereka untuk
ikut membeli produk kita. Proses ini umumnya dilakukan melalui jejaring sosial
di era ini, mendorong kuatnya pengaruh word of mouth bagi penjualan
perusahaan.
Hal
ini tentu mebawa dampak pada pola perilaku masyarakat. Berikut kesimpulan dampak
positif dan negatif perilaku sosial terhadap perkembangan teknologi modern
dalam proses perubahan pola perilaku.
A. Dampak
Positif
1. Masyarakat
menjadi lebih menghargai waktu sehingga waktu yang ada bisa dimanfaatkan untuk
waktu yang produktif
2. Tidak
membutuhkan tenaga yang banyak untuk bertransaksi, seperti pasar konvensional
yang harus pergi ke pasar atau supermarket.
3. Memberi
kemudahan dalam memilih dan melihat toko-toko lain dalam hitungan detik
4. Keamanan
dari kejahatan fisik atau premanisme lebih terjamin dibandingkan pasar dari
pasar konvensional
5. Proses
belanja atau bertemunya penjual dan pembeli mudah, cepat, sehingga tidak
mengorbankan banyak hal untuk melakukan proses jual-beli.
6. Meciptakan
masyarakat yang teliti, waspada, dan cerdas dalam melakukan transaksi
7. Menumbuhkan
sikap saling percaya dan sikap positif lain dari pihak pembeli dan penjual
B. Dampak
Negatif
1. Maraknya kejahatan di internet seperti hacking, pencurian
identitas, penyalahgunaan kartu debit/kredit
2. Masyarakat
relatif lebih malas karena semua kebutuhannya dibantu oleh teknologi
3. Hubungan
antar personal lebih kaku dan hilangnya budaya tawar menawar
4. Menciptakan
masyarakat yang apatis pada lingkungan karena tidak terbiasa lagi
bersosialisasi secara langsung dengan masyarakat
5. Memaksa
pelaku bisnis untuk terus melakukan riset and development secara cepat dan
tepat karena perilaku konsumen yang mudah berubah
6. Maraknya
penipuan
7. Menciptrakan
masyarakat yang ketergantungan terhadap teknologi
2.
Bad
News dan Good
News Politik Terhadap Dunia Bisnis
A.
Bad News Situasi Politik Terhadap Kegiatan Bisnis
1.
Adanya kebijakan pemerintah
menaikkan tarif daftar listrik dan harga bahan bakar yang mengakibatkan
terjadinya pembengkakan pada biaya produksi.
2.
Adanya kebijakan pemerintah untuk
menaikkan upah buruh, sehingga
menyebabkan biaya gaji meningkat sehingga cenderung berdampak pada penurunan
jumlah produksi dan harga produk jadi semakin mahal
3.
Adanya kondisi berbagai kasus
korupsi yang terjadi di berbagai lembaga pemerintah membuat
4.
para pengusaha mengalihkan
investasinya ke luar negeri.
5.
Adanya kasus korupsi di lembaga
pajak membuat para pelaku usaha baik kecil maupun korporasi menjadi enggan
untuk membayar pajak.
6.
Banyaknya pemberitaan tentang terjadinya
berbagai kerusuhan akibat dari kisruh politik menjadikan para investor asing
enggan untuk menanamkan modalnya di Indonesia dan memilih negara lain.
7.
Adanya kebijakan impor yang hanya
memihak pada pengusaha besar/korporasi membuat usaha kecil atau pengusaha kecil
kesulitan menjual produknya.
B.
Good News Situasi Politik Terhadap Kegiatan
1.
Mempermudah para pelaku bisnis UKM
memperoleh akses pinjaman modal dengan diberlakukannya kebijakan KUR (Kredit
Usaha Rakyat)
2.
Pemberdayaan usaha kecil melalui
kebijakan pemerintah yang memberlakukan kegiatan PNPM Mandiri.
3.
Kesejahteraan para buruh relatif
lebih baik karena sudah diberlakukannya kebijakan untuk menaikkan gaji pegawai.
4.
Adanya kebijakan jaminan sosial
untuk tenaga kerja atau buruh (JAMSOSTEK)
5.
Persyaratan untuk mendirikan suatu
usaha atau bisnis menjadi lebih mudah
6.
Adanya kebijakan pemerintah untuk
mengadakan kemitraan antara pengusaha kecil dengan pengusaha besar untuk
memberdayakan usaha kecil
7.
Memberikan akses atau peluang
jaringan pasar dalam negeri maupun luar negeri (ekspor).
8.
Fasilitas
perdagangan JATS trading saham
melalui jejaringan online
9.
Pembenahan
pelayanan birokrasi yang tidak berbelit-belit sehingga memperlancar kegiatan
bisnis
3.
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responbilities)
Konsep tentang
tanggung jawab sosial (CSR) telah dikenal sejak tahun 1970. Saat ini wacana
tentang pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan telah berkembang dengan
pesat. Ide dasar tanggung jawab sosial perusahaan adalah dari keputusan perusahaan
yang mempengaruhi stakeholder secara sosial dan perusahaan harus
bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambilnya (Oetzel et al., 2007).
The World
Business Council for Sustainable Development, mendeskripsikan tanggung jawab sosial perusahaan sebagai komitmen yang
berkesinambungan dalam dunia bisnis untuk bertindak etis dan berkontribusi
terhadap perkembangan ekonomi sementara meningkatkan kualitas hidup di tempat
kerja dan keluarganya pada khususnya, dan komunitas lokal dan sosial pada umumnya
(Versi, 2007). Tanggung jawab sosial perusahaan merupakan konsep dimana
perusahaan mempertimbangkan kepentingan lingkungan masyarakat sekitar dengan
bertanggung jawab terhadap dampak kegiatan operasional perusahaan kepada
konsumen, karyawan, shareholders, masyarakat, dan lingkungan disemua
aspek kegiatan operasional perusahaan.
Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) adalah kewajiban
organisasi atau perusahaan yang tidak hanya menyediakan barang dan jasa yang
baik bagi masyarakat, tetapi juga mempertahankan kualitas lingkungan sosial
maupun fisik, dan juga memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan
komunitas dimana mereka berada (Mirza dan Imbuh, 1997 dalam Januarti dan
Apriyanti, 2006). Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR)
adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela
mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya
dan interaksinya dengan stakeholder yang melebihi tanggung jawab di
bidang hukum (Darwin, 2004 dalam Anggraini, 2006).
Cahyonowati dalam Januarti dan Apriyanti, (2006) menyatakan
bahwa ada tiga perspektif yang timbul berkaitan dengan tanggungjawab sosial
perusahaan (Corporate Social Responsibility) yaitu :
1.
Perspektif Bisnis yang menganggap
pentingnya reputation capital untuk menguasai dan menopang pasar.
Pendukung perspektif ini sering memasukkan unsur tanggungjawab sosial
perusahaan dalam kegiatan periklanan perusahaan dan juga pada kegiatan
pemasaran.
2.
Perspektif eco-sosial memandang tanggung jawab sosial perusahaan sebagai nilai (value)
dan strategi untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Tanggung jawab
sosial juga dipandang sebagai strategi karena dapat mengurangi ketegangan
sosial.
3.
Right- Based perspective menekankan bahwa konsumen, pekerja, masyarakat dan pemegang saham
mempunyai hak untuk mengetahui kegiatan bisnis perusahaan. Aspek kunci dari
tanggung jawab sosial perusahaan adalah akuntabilitas, transparansi dan
investasi sosial dan lingkungan.
Contoh-contoh tanggung jawab sosial:
PT. DJARUM :
Program tanggung jawab sosial PT. DJARUM:
1.
Beasiswa Olahraga Bulutangkis
2.
Pemberian Bantuan terhadap Korban
Bencana Alam
3.
Merekrut masyarakat sekitar pabrik
untuk dijadikan karyawan
4.
Bakti Sosial Kepada Panti Asuhan
serta Penyandang Cacat
5.
Recycle atau pengolahan kembali limbah pabrik,
yaitu sisa kemasan rokok dibuat menjadi kardus daur ulang.
6.
Pemberian Amal atau Penggalangan
Dana untuk Rehabilitasi Korban Narkoba
7.
Pemberian beasiswa pendidikan ke
jenjang pendidikan S2 bagi karyawannya.
PT GAJAH TUNGGAL
1. Kegiatan penyuluhan HIV/Aids dan anti Narkoba
dilingkungan kerja dan juga pengurangan kematian Balita
2. Pemberian Bantuan Bencana Alam Tsunami di Aceh
3. Pemberian Bantuan Dana Untuk Konservasi Satwa Langka
di Sumatera Utara
4. Mempermudah akses kepada para poemegang saham dan
stakeholder dalam memperoleh berbagai bahan informasi dan publikasi.
5. Bantuan fakir miskin dan kaum dhuafa
6. Pemberian bantuan konflik sosial
4.
Ilustrasi
Aspek Yuridis Indonesia
Isu kenaikan BBM (Bahan
Bakar Minyak) yang akan dimulai beberapa bulan mendatang membuat pelaku bisnis
siap siaga untuk menantisipasi lonjakan harga yang pasti akan terjadi. Bisnis
skala rumah tangga/UKM akan merasakan dampak ini secara langsung. Naiknya BBM
berbanding lurus dengan kenaikan harga bahan baku komoditi, transportasi, dan
lain-lain yang berhubungan dengan kelanjaran bisnis UKM dan kehidupan
sehari-hari masyarkat sebagai konsumen.
Selain itu pola perilaku
konsumen pun akan berubah drastis, mulai dari penghematan pengeluaran biaya per
hari, pemilihan produk yang lebih efisien dan tepat, dan lain-lainnya. Cash flow masyarakat yang berubah
mengubah sikap masyarakat yang konsumtif menjadi lebih hemat, atau mengurangi
pola perilaku konsumtif. Hal ini terjadi disebabkan oleh biaya hidup yang
meningkat tidak diiringi oleh pendapatan yang bertambah sehingga akan cenderung
mengubah pola hidup masyarakat itu sendiri.
Kenaikan BBM juga akan menimbulkan inflasi
berturut-turut dalam kurun waktu beberapa bulan terhitung sejak kenaikan BBM.
Namun, bagi seorang investor besar tentu hal ini bukanlah masalah melainkan
peluang besar.
Pengurangan subsisdi
pada BBM akan menunjang perbaikan infrasturktur dan transportasi di berbagai
daerah. Jika hal ini terjadi tentu pemerintah akan memerlukan bahan baku tenaga
kerja khusus, dan apapun yang terkait pada bidang ini. Seorang investor dengan
peluang tersebut akan menanamkan modalnya emiten yang bergerak di bidang
infrasturktur tersebut; seperti semen, bahan baku besi, dan lain-lain—apapun yang bergerak di bidang ini.
Dalam beberap tahun
mendatang lonjakan jika prediksi investor ini tepat, maka akan terjadi
keuntungan yang berlipat ganda hingga tak terbatas. Indonesia sebagai negara
berkembang yang bergerak menjadi negara maju masih membangun dengan keperluan
yang sangat besar akan terjadi pembangunan besar-besaran setelah adanya cukup
biaya untuk melaksanakan itu. Sebuah peluang fantastis.
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: