Sunday, May 26, 2013

Cerita Indah Dari Alumni



Hidup begitu keras mendidik Andi dalam lingkungan keluarga sederhana. Kedua orangtuanya hanyalah seorang petani misikin yang hidup jauh dari pelosok kota hingga tidak banyak yang tahu tentang mereka.
Andi telah tumbuh dewasa dan menjadi mahasiswa di salah satu kampus di  Semarang, Indonesia. Biaya hidup yang menghimpit memaksanya untuk kuliah sambil kerja, jika tidak ia mungkin tidak akan kuliah lagi karena keterbatasan biaya.

Andi akhirnya membuka usaha untuk berjualan keliling kampus untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mau tak mau, dan suka tak suka. Selain itu, ia dari hasil penjualan yang lumayan menguntungkan ia menyewa lahan pertanian untuk bercocok tanam, tampaknya memungkinkan.

Hingga pada suatu hari, titik keterpurukan dari kehidupannya.  Usahanya bangkrut dan meninggalkan biaya utang 912 Juta rupiah!

Kemana akan dicari uang sebanyak itu? Pada tahun 1998 yang silam, itu adalah yang luar biasa sekali untuk seukuran mahasiswa biasa. Tidak ada yang akan percaya hal itu, namun itulah buktinya.
Andi benar-benar pasrah. Ia tak tahu apalagi yang harus ia lakukan, kehidupannya berantakan, seakan semua dibalikkan alam sekejap.

Kuliah yang tak kunjung usai, dan utang besar yang gila membuat Andi sangat stress dan tidak bergairah untuk hidup.

Pada akhirnya ia kembalikan segala sesuatu pada Tuhan yang menciptakannya. Ia pasrahkan segla masalah ini, dan ia ia hadapi—melakukan apa yang masih mungkin ia lakukan sebagai bentuk pertanggung jawabannya.

Andi yang setia dan tulus mempunyai seorang gadis yang dicintainya, ia telah bertunangan dengan seorang gadis cantik jelita. Saat masa-masa terpuruk ini, saat inilah kesetiaannya diuji. Ia datangi tunangannya, “Sayang, Sekarang aku tidak mempunyai apa-apa lagi, dan utangku ada 912 Juta. Satu-satunya yang aku miliki tinggal kamu. Aku mohon jangan kau tinggalkan aku.

Tunangan Andi sontak kaget mendengar berita buruk itu. Ia bisa saja berpaling sekarang, toh ia mempunyai hak untuk memilih kesejahteraan untuk hidupnya daripada harus bersama laki-laki yang sudah mempunyai utang sebesar itu padahal masih duduk dibangku kuliah, dan kuliahnya bertahun-tahun pun tidak kunjung usai. Apa untungnya menikah dengannya?

Baiknya, Sonya tidak sepert itu. Wajah Andi yang pasrah dan tertunduk lesu, Sonya dekap hangat dengan kedua tangannya menegakkan kpalanya yang tertunduk. Ia menatap Andi lurus. Andi menanti jawaban darinya. Suara Sonya pelan berujar, “Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan menghadapinya bersama-sama.”

Entah angina apa yang menyentuhnya, beberapa kata pendek itu sangat menyejukan hatinya. Seakan Sonya telah menyiraminya kembali kehidupan yang tandus. Bertambah yakinlah mereka berdua, inilah cinta mereka. Andi memeluk Sonya dengan erat. 

Laki-laki keras itu tak sanggung menahan haru. Ia akan tetap menikah dengan Sonya. 

Andi mendatangi bosnya, ia ceritakan segala masalahnya. Ia bicara dengan pasarah, “Pak, sekarang saya tidak mempunyai apa-apa lagi. Saya akan mebayarkan utang saya pada bapak, tapi tidak dalam aktu yang dekat ini. Tapi jika bapak tidak berkenan silahkan bapak melakukan ap[a saja terhadap saya, saya akan bertanggung jawab atas kewajiban saya.” Andi menutup pembicaraan dan menunggu jawaban dengan pasrah.

Singkat cerita, Bosnya memaklumi apa yang sedang terjadi padanya,berujar “Andi uang itu sudah aku ikhlakan untuk membantumu, jika sudah tidak ada ya mau diapakan lagi? Kamu tidak usah bayar tang sebanyak itu tidak apa-apa.” Bosnya menjawab dengan mantap sambil tersenyum.

Terus terang saja, Andi sangat terkejut dengan pernyataan bosnya itu. Ia mengucapkan syukur pada Allah Swt, berterima kasih pada bosnya sedalam-dalamnya. Lalu ia bertekad, walau utang itu telah diikhlaskan oleh pemilikinya, ia bertekad akan membayar. “Utang tetaplah utang, itu kewajiban saya.” Ia berbicara dalam hati dengan mantap.

Hebatnya, ditengah waktu yang sibuk ia masih saja menyempatkan diri untuk ikut alam sebuah organisasai berkaliber nasional.
(bersambung…)

No comments:

Post a Comment

Name:
Subject:
Messages: