Hidup begitu keras mendidik Andi dalam lingkungan keluarga
sederhana. Kedua orangtuanya hanyalah seorang petani misikin yang hidup jauh
dari pelosok kota hingga tidak banyak yang tahu tentang mereka.
Andi telah tumbuh dewasa dan menjadi mahasiswa di salah satu
kampus di Semarang, Indonesia. Biaya
hidup yang menghimpit memaksanya untuk kuliah sambil kerja, jika tidak ia
mungkin tidak akan kuliah lagi karena keterbatasan biaya.
Andi akhirnya membuka usaha untuk berjualan keliling kampus
untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mau tak mau, dan suka tak suka. Selain itu, ia
dari hasil penjualan yang lumayan menguntungkan ia menyewa lahan pertanian
untuk bercocok tanam, tampaknya memungkinkan.
Hingga pada suatu hari, titik keterpurukan dari
kehidupannya. Usahanya bangkrut dan
meninggalkan biaya utang 912 Juta rupiah!
Kemana akan dicari uang sebanyak itu? Pada tahun 1998 yang
silam, itu adalah yang luar biasa sekali untuk seukuran mahasiswa biasa. Tidak
ada yang akan percaya hal itu, namun itulah buktinya.
Andi benar-benar pasrah. Ia tak tahu apalagi yang harus ia
lakukan, kehidupannya berantakan, seakan semua dibalikkan alam sekejap.
Kuliah yang tak kunjung usai, dan utang besar yang gila
membuat Andi sangat stress dan tidak bergairah untuk hidup.
Pada akhirnya ia kembalikan segala sesuatu pada Tuhan yang
menciptakannya. Ia pasrahkan segla masalah ini, dan ia ia hadapi—melakukan apa
yang masih mungkin ia lakukan sebagai bentuk pertanggung jawabannya.
Andi yang setia dan tulus mempunyai seorang gadis yang
dicintainya, ia telah bertunangan dengan seorang gadis cantik jelita. Saat
masa-masa terpuruk ini, saat inilah kesetiaannya diuji. Ia datangi tunangannya,
“Sayang, Sekarang aku tidak mempunyai apa-apa lagi, dan utangku ada 912 Juta.
Satu-satunya yang aku miliki tinggal kamu. Aku mohon jangan kau tinggalkan aku.
Tunangan Andi sontak kaget mendengar berita buruk itu. Ia
bisa saja berpaling sekarang, toh ia
mempunyai hak untuk memilih kesejahteraan untuk hidupnya daripada harus bersama
laki-laki yang sudah mempunyai utang sebesar itu padahal masih duduk dibangku
kuliah, dan kuliahnya bertahun-tahun pun tidak kunjung usai. Apa untungnya
menikah dengannya?
Baiknya, Sonya tidak sepert itu. Wajah Andi yang pasrah dan
tertunduk lesu, Sonya dekap hangat dengan kedua tangannya menegakkan kpalanya
yang tertunduk. Ia menatap Andi lurus. Andi menanti jawaban darinya. Suara
Sonya pelan berujar, “Sayang, aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan
menghadapinya bersama-sama.”
Entah angina apa yang menyentuhnya, beberapa kata pendek itu
sangat menyejukan hatinya. Seakan Sonya telah menyiraminya kembali kehidupan
yang tandus. Bertambah yakinlah mereka berdua, inilah cinta mereka. Andi
memeluk Sonya dengan erat.
Laki-laki keras itu tak sanggung menahan haru. Ia akan tetap
menikah dengan Sonya.
Andi mendatangi bosnya, ia ceritakan segala masalahnya. Ia
bicara dengan pasarah, “Pak, sekarang saya tidak mempunyai apa-apa lagi. Saya
akan mebayarkan utang saya pada bapak, tapi tidak dalam aktu yang dekat ini.
Tapi jika bapak tidak berkenan silahkan bapak melakukan ap[a saja terhadap
saya, saya akan bertanggung jawab atas kewajiban saya.” Andi menutup
pembicaraan dan menunggu jawaban dengan pasrah.
Singkat cerita, Bosnya memaklumi apa yang sedang terjadi
padanya,berujar “Andi uang itu sudah aku ikhlakan untuk membantumu, jika sudah
tidak ada ya mau diapakan lagi? Kamu tidak usah bayar tang sebanyak itu tidak
apa-apa.” Bosnya menjawab dengan mantap sambil tersenyum.
Terus terang saja, Andi sangat terkejut dengan pernyataan
bosnya itu. Ia mengucapkan syukur pada Allah Swt, berterima kasih pada bosnya
sedalam-dalamnya. Lalu ia bertekad, walau utang itu telah diikhlaskan oleh
pemilikinya, ia bertekad akan membayar. “Utang tetaplah utang, itu kewajiban
saya.” Ia berbicara dalam hati dengan mantap.
Hebatnya, ditengah waktu yang sibuk ia masih saja
menyempatkan diri untuk ikut alam sebuah organisasai berkaliber nasional.
(bersambung…)
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: