Saturday, April 20, 2013

Nikmat Yang Dilalaikan


“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri (nya)”.  (QS. Yunus: 60)

Kawan, hari ini hati dan tanganku tergerak menulis sebuah nikmat yang sering kita lalaikan dalam mensyukurinya untuk mengingatkan kepada kita semua sebelum nikmat itu dicabut.
Sungguh sedikit sekali saya meensyukuri nikmat ini. Tahukah kamu apa nikmat itu? Nikmat itu adalah kehidupan yang damai tanpa perang!

Kawan, ingatkah kamu saat Indonesia berselisih dengan Malaysia ketika perrebutan Ambalat dan persenggolan dan pencurian budaya lainnya? Ingat (pula) kah kamu ketika demonstrasi sebagian rakyat Indonesia yang meminta gencatan senjata?!; Perang. 


Kawan, negara kita memang kuat dan memiliki aparatur negara yang tangguh. Dibalik itu semua ternyata ada nikmat yang tidak kita syukuri, kedamaian! Kawan, Kita tidak akan disebut dengan generasi yang manja kalau kita tidak ikut berperang. Musuh yang sebenarnya adalah diri kita sendiri yang akan mengakibatkan banyak kerugian kepada diri kita sendiri. Dan setan pun hanya pendorong kita melakukan perbuatan dosa, tapi kita-lah yg diberi Allah pilihan; memilih berbuat baik ataupun keburukan.

Perang, yang memakan korban-korban di setiap tempatnya; baik yang terlibat ataupun yang tidak berdosa, mereka mati dalam ketakutan-ketakutan yang mengerikan.
Peperangan yang mencekam!

Jikalau pun kita—yang tidak takut untuk  mati dan mampu melindungi diri—bagaimana dengan orang-orang yang kita cintai dan sayangi? Tentu saja tidak semua dari mereka yang mempunyai pertahan diri yang kuat, mereka akan terluka, tersakiti, tersia-siakan, sedangkan hidupnya di dunia ini hanya sekali; entah bertemu entah tidak di kehidupan selanjutnya!

Kawan, coba kamu bayangkan berada di tengah-tengah peperangan yang mencekam; dengan tombak-tombak runcing, pedang-pedang beracun, dan peluru-peluru panas, bom-bom yan siap meledak kapan saja, bukan sakitnya yang dikhawatirkan, kawan! Tapi Ketajaman ketakutan psikologinya…!!!

Perang menjadikan kebenaran sebagai nilai-nilai tersendiri, hukum rimba
kekuatan dan strategi, adalah penentu kemenangan, membantai tubuh-tubuh manusia tanpa ampun, seakan seperti singa yang lapar, atau seperti drakula yang haus darah.

Salah satu korban-korban perang
Dan bayangkan juga ketika orang-orang yang kita sayangi dlukai, dianiaya tanpa belas kasih tanpa keprimanusiaan, hak-haknya dicabut, kehidupannya direnggut, bagaimana jiwa kita kawan?! Tidak lagi rasa yang bermain, tetapi semua fokus kita tertuju satu; maka setelahnya benar-benar tidak ada kedamaian—bayang-bayang orang yang kita cintai dan sayangi menghantui seakan kita berdosa atas kehidupan mereka; mereka menghantui agar mau menolongnya, padahal hal tersebut hanyalah angan-angan, namun begitulah salah satu psikologi buruk yang dirasakan.

Harga diri yang diinjak-injak akan mengakibatkan kerusakan dimana-mana, keinginan untuk saling menyakiti; tidak ada lagi rumah/ tempat tinggal, tidak ada lagi senyuman manis, tidak ada lagi impian, tidak ada lagi rasa kasih sayang, naluri dan tujuan hanyalah menanti maut, menanti dibunuh, atau menanti nyawa dicabut ketika lengah, yang pasti adalah menanti pertanggung jawaban atas dosa-dosa di dunia ini dihadapan Allah Yang Maha Kuasa.

Perhitungan yang adil, detail, dan terperinci. Ketika kesalahan ditampakkan, ketika aib dibongkar, ketika kemurkaan menunggu! Apalah arti hidup ini. Bayi-bayi akan memohon agar tidak dilahirkan ke dunia, bumi pun ingin pergi mengusir, ketika darah terus tumpah dan mayat-mayat bergelimpangan.

Jika bukanlah karena Nikmat Allah Swt, apakah mungkin kita hidup dalam kehidupan sedamai ini? Bergelut dengan cita-cita, toleransi yang tinggi, senyum, bercanda ria dengan sesama, memakan makanan yang enak, hidup dalam kenyamanan dan aman, hidup dicintai dan mencintai, menuntut ilmu, pergi setiap hari menikmati nikmat-nikmat-Nya, pulang dan tidur nyenyak di atas kasur yang empuk bertelekan permadani-permadanbi dunia, hingga pagi dibangunkan kembali bersama orang-orang yang kita cintai. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

“Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri (nya)”.  (QS. Yunus: 60 )

Maka saksikanlah atas kesyukuran ini.

TAPI Apabila perintah untuk membela Agama Allah datang, dan kewajiban jihad menanti maka marilah Jangan kita takut, jangan gentar…!!! Layaknya Panglima perang Muhammad Saw, juga seperti Ibrahim As, seperti Musa As, seperti Daud As, dan seperti Nuh As atau yang lainnya.

Ketika ragu, ingatlah ketika Allah berfirman:
“Sesungguhnya kekuasan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Qs. Yunus: 66)

“Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya: Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakkal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkankanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku), Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. (QS. Yunus: 71)

Kawan, ketika darurat itu datang ingat dan simaklah ayat itu. Juga berita tentang keberanian Nabi terdahulu. Tiada ketakutan, tiada kelemahan, melainkan dihadapan Allah Swt.

Kawan, mari saling mengingatkan. Ingatkan saya, ingatkan keluarga, ingatkan teman-teman, ingatkan kaum,lalu  Semoga kita hidup dalam kedamaian, hidup dalam kesejahteraan, serta termasuk orang-orang yang diridhai oleh Allah Swt. Segala puji hanya bagi Allah Swt Tuhan semesta alam.
Hal-hal kecil yg disyukuri
Thanks to Allah Swt

2 comments:

Name:
Subject:
Messages: