Thursday, May 09, 2013

Cerita Dari Masa Lalu

Benar saja, ini akan terjadi! Sebelumnya aku melihat salah satu media sosial organisasiku, ia dikabari oleh ketua organisasi untuk datang!
Bagiku ini mengguncang. Betapa tidak, pertemuan dua manusia yang saling tersakiti yang sama-sama menyimpan rasa sayang yang dulu sempat tersemat. Kini bertemu dalam satu atap dibawah naungan organisasi.

Pertemuan itu membawaku jauh ke masa lalu. Saat seorang remaja polos, penuh rasa ingin tahu dengan sikap remaja yang masih kekanak-kanakan, remaja yang terseret oleh budaya asing yang hampir menjadi budaya bangsanya--Malangnya, dua remaja itu berpacaran. Paling tidak ia tidak pernah membawaku pada gerbang zina yang lebih dalam, sebatas menjalani hubungan jarak jauh karena dibatasi oleh aku yang telah merantau.

Satu bulan lebih sedikit usia hubungan jarak jauh atau LDR itu, komunikasi mulai berangsur hilang. Kadang saja, masih berhubungan lewat telepon, ia berbicara dengan bahasa jawanya yang kental dan bahasa Minangku yang kental pula dipersatukan dalam bahasa Indonesia.

Singkat cerita, seiring waktu komunikasi yang mulai tersendat, komunikasi kami benar-benar hilang, dan pada akhirnya hubungan ini putus.

Tak lama berselang waktu terdengar kabar buruk yang menjijikkan dari teman dari sekampung, ia lebih tua, berkata ia pernah mencium pacarku itu!

Jalang sekali kata-katanya seakan ia tidak menghargai. Kalau bukanlah teman, pasti aku sudah berkelahi dengannya, Darahku ingin sekali membungkam mulutnya dengan tangan yang dikepal. Hina sekali cerita itu bagiku.

Terang saja, seorang manusia seumur jagung  yang baru mulai mekar, percaya begitu saja. Harga diri terasa terinjak, dan aku membela diri. Aku berharap sekali cerita itu tidak benar! Aku yakin ia bukanlah orang seperti itu.

Aku masih marah dalam diam, entah perasaan apa, yang jelas aku yang terluka dan terpukul mendengarnya. Jauh dalam lubuk hati aku masih peduli padanya--gadis itu, namun ego gengsi mengalahkan ego rasa murni cinta dan sayang. Harga diri diatas segala-galanya! Saat itu terusik saat itulah diri mulai menyerang.

Bak api kecil yang diberi akar bensin, temanku mengadukan pembelaanku pada gadis yang telah aku lukai hatinya atau aku yang dilukainya.

Terang saja, gadis itu sangat terusik dengan pembelaanku, tampaknya ia tersinggung. Suasana antara dia dan aku memanas, bertubi-tubi pertanyaan ia menempa yang aku balas pula dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat aku dilukai. Bodoh sekali.

Tanpa melihat akar permasalahan, kedua-duanya membela diri demi harga diri masing-masing! Lalu menjadi sama-sama malu setelahnya. Dan, sang bensin itu tampaknya tertawa melanglang buana. Buaya busuk!

Saat itu aku mulai membencinya. Waktu demi waktu perasaan terus dihantui ketidaknyamanan.

Akhirnya waktu jualah membantuku melupakannya, waktu membawaku pada kesibukan yang baru; suasana sekolah yang baru, teman-teman baru, dan serba baru. Aku juga sempat berpindah sekolah ke kota lain, tentu saja lebih jauh darinya.

Kadang, ketika kembali ke kampung halaman masih saja sempat bertemu dengannya, tapi tampaknya ia malu bertemu denganku, ia selalu saja berpaling muka.

Hingga saat ini tela kami lewati masa sekolah menengah itu, dan melanjutkan studi ke tempat lain, merantau lebih jauh dari sebelumnya. Pikiran berkembang dan mulai dewasa, bukan lagi remaja polos yang mencerna segala sesuatu yang diterimanya. Ia mulai belajar mandiri, hanya saja ia belum mampu membiayai hidupnya sendiri. Ilmu dan watak berkembang, cara berinteraksi berkembang, dan kami benar-benar talah berbeda sejak pertama kali bertemu itu.

Entah angin dan awan apa, takdir membawa kami untuk kuliah dalam satu kampus yang sama! Berbeda jurusan dengan gedung fakultas yang berdekatan.

Anehnya hampir satu tahun berlalu kami tidak tahu masing-masing. Seakan ia tidak pernah kenal sebelumnya. Mungkin saja takdir berkata lain.

Tepat pada suatu malam, tepat pada masa ini, organisasi mengundang aku dan dia untuk datang dalam pembahasan rencana kerja.

Bengong! Pertama kali melihat wajahnya; penuh kedewasaan, anggun, dan berbeda. Kami dipertemukan oleh organisasi, betemu setelah bertahun-tahu tiada bertegur sapa. Terang saja, perasaan bercampur aduk, nervous, aneh, ragu, dan berbagai perasaan aneh lainnya--bayangkan saja.

Aku mencoba mengendalikan diri....

Nafas aku hidup pelan, lalu aku hembuskan dengan tenang. Hal ini sedikit membantu. Aku mencoba tetap tenang mempresentasikan rencana kerja yang akan dibebani kepadaku besert kawan-kawan.

Ditengah-tengah pembahasan rapat itu aku salah menyebutkan nama, lalu terdengar suara; aku ditertawai kecil oleh seorang gadis disudut ruangan itu--siapa lagi kalau bukan gadis yang pernah mengisi hidupku itu, ia tertawa kecil dengan mengulang kesalahan yang aku ucapkan.

Sontak aku kaget, dan aku cepat-cepat mengalihkan pembicaraan sebelum nervousku bertambah parah.

Singkat cerita, rapat rencana kerja berjalan dengan baik dan lancar, rapat pun usai. Hampir magrib aku pamit pulang, satu persatu ikhwan itu aku salami dan mulai beranjak pulang.

Saat aku melewati ruangan tengah itu ia tengah duduk diantara pengurus-pengurus organisasi itu. Segenap keberanian yang aku kumpulkan karena aku telah ditertawai, aku menyapanya untuk berpamitan. Tahukah kamu bagaimana rekasinya?

Ia merespon dengan agak malu-malu khas wanita lalu menyapa dengan hangatnya. Hampir saja aku lupa dengannya bersikap seperti itu. Sikap dewasa, anggun, dan tenang memenuhi rongga-rongga jiwanya terpancar lembut keluar. Aku tahu, ia telah dewasa.

Tanggapan yang baik membuat aku sedikit berbincang dengannya beberapa waktu, kami saling menanyakan keberadaan, fakultas, dan lainnya. Aura nostalgia pun tak terelakkan, seakan kami adalah kawan karib yang sangat dekat yang telah lama tidak bertemu.

Seseorang memanggilnya, lalu perbincangan kami terhenti sampai disitu dulu. Aku berpamit pulang, dan terpaksa kembali lagi pada ruangan itu karena adzan sudah menyeru saat aku telah di atas motor bututku. Aku permisi untuk sholat terlebih dahulu, lalu beranjak pulang.

Dalam perjalanan, aku diliputi rasa tenang yang berbeda dari biasanya. Kesalahan masa lalu, terputusnya hubungan tali silaturrahim, kembali seperti sedia kala. Aku bahagia, Allah telah memberiku kesempatan untuk bertaubat, dan kembali menjalin hubungan dengan batasan yang baik. Maha Suci Allah Yang Maha Pemelihara.

Saat ini aku telah benar-benar yakin, kehinaan lalu itu tidak pernah terjadi padanya. Aku diyakinkan oleh sesuatu yang lain ia pandai menjaga diri dan tidak seburuk yang aku pikirkan.

Sekarang, kami masing-masing telah tumbuh dewasa dan matang dengan segenap ketenangan aku tidak menyesali hubungan pertengkaran itu. Sebaliknya aku mensyukurinya. Setidaknya dengan begitu ia tidak akan pernah lupa padaku, jika tidak mungkin kami tidak pernah saling ingat. Lalu, semoga kesalahan itu tidak terjadi lagi. Memperbaiki diri dan menjaga diri dari perbuatan keji dan mungkar adalah lebih baik sehingga Allah memantaskan kita untuk jiwa yang lebih baik sesuai dengan janji-Nya. Sesungguhnya Ia tidak pernah menyalahi janji. :)




Ayo menulis! dan kirim cerita singkatmu ke boktobibi@gmail.com.
Kami tunggu ya...!!!

No comments:

Post a Comment

Name:
Subject:
Messages: