![]() |
| Numpang main ya hihihi |
Bedil Meriam adalah bambu yang yang terbuat
dari bambu berukuran minimal ±1,5-2m dengan cara melubangi setiap batas ruasnya
dan menyisakan ruas terakhir sebagai tank
tempat bahan bakar meriam. Bedil meriam ini menggunakan minyak tanah
sebagai bahan bakar yang dimasukkan sedikit kain bekas ke dalam lubang tempat tank minyak agar bahan bakar tidak cepat
habis dan tahan lebih lama. Bedil meriam ini juga kerap disebut Bedil Minyak
Tanah oleh masyarakat Minangkabau khususnya di daerah Koto Salak, Dharmasraya,
Sumatera Barat, nama ini diambil kemungkinan besar berasal bahan bakar utama
yang memakai minyak tanah
Mainan tradisional rakyat ini biasanya selalu
ada ketika menjelang ramadhan tiba sampai hari raya idul fitri raya datang. Namun,
seiring waktu mainan yang terbuat dari bambu ini semakin langka ditemukan.
Apresiasi masyarakat yang kurang terhadap
pelestarian intsrumen budaya ini dapat menjadi salah satu penyebabnya, dimana
ada anggapan bahwa mainan ini sebagai mainan kuno dan terlihat tidak modern
alias ketinggalan zaman.
Mainan ini dahulunya dimainkan oleh kalangan
anak-anak hingga bujang dewasa
(lelaki dewasa yang belum menikah). Saat ini bedil meriam banyak dimainkan
kalangan anak-anak saja, dan itu pun gaungan dari suara bedil meriam sumbang,
alias tidak sahut-sahutan seperti dulu layaknya orang yang sedang perang.
Banyak hikmah dibalik permainan tradisional
ini; melestarikan nilai-nilai sejarah budaya didalamnya, mendekatkan diri anak
kepada alam dan lingkungan dengan berbaur bersama masyarakat banyak, mulai dari
proses pengambilan bambu hingga perang bunyi bedil meriam—biasanya bunyi
terkeras dialah pemenangnya—yang menyemarakkan semangat kompetisi yang positif,
serta berbagai manfaat lainnya
Waktu akan terus bergulir, dan generasi akan
terus berganti, jika mainan tradisional ini tidak dilestarikan perlahan tapi
dapat dipastikan mainan ini akan hilang bersama permainan-permainan tradisional
lainnya—yang telah hilang lekang oleh zaman—lestarinya sikap acuh terhadap
budaya. Apakah tidak ada kebanggaan disana? Entahlah, yang jelas masyarakat
belum sadar bahwa dari mainan dan permainan tradisional-lah yang membuat suatu
masyarakat berbeda dari yang lainnya—ciri khas—keunikan untuk semangat
kompetisi dunia.
-Habibullah Boktobibi-

No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: