Saturday, July 27, 2013

Bedil Meriam Mainan Tradisional


Numpang main ya hihihi
Bedil Meriam adalah bambu yang yang terbuat dari bambu berukuran minimal ±1,5-2m dengan cara melubangi setiap batas ruasnya dan menyisakan ruas terakhir sebagai tank tempat bahan bakar meriam. Bedil meriam ini menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar yang dimasukkan sedikit kain bekas ke dalam lubang tempat tank minyak agar bahan bakar tidak cepat habis dan tahan lebih lama. Bedil meriam ini juga kerap disebut Bedil Minyak Tanah oleh masyarakat Minangkabau khususnya di daerah Koto Salak, Dharmasraya, Sumatera Barat, nama ini diambil kemungkinan besar berasal bahan bakar utama yang memakai minyak tanah

Mainan tradisional rakyat ini biasanya selalu ada ketika menjelang ramadhan tiba sampai hari raya idul fitri raya datang. Namun, seiring waktu mainan yang terbuat dari bambu ini semakin langka ditemukan.
Apresiasi masyarakat yang kurang terhadap pelestarian intsrumen budaya ini dapat menjadi salah satu penyebabnya, dimana ada anggapan bahwa mainan ini sebagai mainan kuno dan terlihat tidak modern alias ketinggalan zaman.
Mainan ini dahulunya dimainkan oleh kalangan anak-anak hingga bujang dewasa (lelaki dewasa yang belum menikah). Saat ini bedil meriam banyak dimainkan kalangan anak-anak saja, dan itu pun gaungan dari suara bedil meriam sumbang, alias tidak sahut-sahutan seperti dulu layaknya orang yang sedang perang.
Banyak hikmah dibalik permainan tradisional ini; melestarikan nilai-nilai sejarah budaya didalamnya, mendekatkan diri anak kepada alam dan lingkungan dengan berbaur bersama masyarakat banyak, mulai dari proses pengambilan bambu hingga perang bunyi bedil meriam—biasanya bunyi terkeras dialah pemenangnya—yang menyemarakkan semangat kompetisi yang positif, serta berbagai manfaat lainnya
Waktu akan terus bergulir, dan generasi akan terus berganti, jika mainan tradisional ini tidak dilestarikan perlahan tapi dapat dipastikan mainan ini akan hilang bersama permainan-permainan tradisional lainnya—yang telah hilang lekang oleh zaman—lestarinya sikap acuh terhadap budaya. Apakah tidak ada kebanggaan disana? Entahlah, yang jelas masyarakat belum sadar bahwa dari mainan dan permainan tradisional-lah yang membuat suatu masyarakat berbeda dari yang lainnya—ciri khas—keunikan untuk semangat kompetisi dunia.
­-Habibullah Boktobibi-

No comments:

Post a Comment

Name:
Subject:
Messages: