Pejabat demokrasi yang katanya pembela rakyat, pengayom rakyat, peduli rakyat, tidak lebih dari sebagai wakil rakyat; wakil rakyat menikmati liburan gratis, wakil rakyat untuk memenuhi hawa nafsu duniawi, wakil rakyat dalam kriminalitas tingkat tinggi, wakil rakyat untuk menikmati kemewahan, dan mewakili lain-lainnya yang jelas sekali menyengsarakan rakyat jelata.
Sistem politik yang cacat dibanggakan oleh
orang-orang yang mempunyai kepentingan dalam jalan politik hitam—menghalalkan
segala cara untuk mencapai tujuannya—membodohi rakyat bahwa demokrasi adalah
sistem politik yang adil, jujur, dan bersih.
Bagaimana hal ini bisa dikatakan adil? Bukan
demokrasinya yang menjadi permasalahan, tetapi orang-orang yang ada didalamnya.
Sudah jelas indonesia negara baru berkembang—kecerdasan politik dan pemikiran
penduduk yang tidak merata tetapi mempunyai nilai suara yang sama—menggaungkan
suatu cara untuk mencapai kepentingan bagi orang bermodal bukan karena
intelektual menipu rakyat seakan inilah jalan kebenaran. Meninggi-ninggikan
masyarakat sehingga masyarakat menjadi congkak lupa diri sehingga jatuhnya
sakit bukan kepalang.
Apakah masih saja orang-orang yang peduli
terhadap negeri ini belum jua sadar? Lihatlah ketika pelaku-pelaku politik
hitam yang menyogok/menyuap/membeli suara rakyat jelata dengan harga yang
murah—duit Rp 20.000 atau kain sarung lebaran contohnya—demi keuntungan kecil
membuat rakyat tertipu bahwa ia telah mengorbankan tujuan jangka panjangnya
selama 5 tahun kedepan. Hal ini pun disebabkan berbagai macam; ada yang
menyatakan semua tokoh politik itu sama, siapa yang kalah siapa yang menang
negeri ini tidak akan berubah, ada pula yang menyangka dengan pemberian uang Rp
20.000 atau sembako gratis itu bahwa calon pejabat tersebut perhatian, padahal
hal tersebut adalah langkah pencitraan membeli suara rakyat yang tidak jeli
dalam politik.
Seharusnya pemikiran pendek dan pesimis
tersebut harus dibuang jauh-jauh. Orang yang mampu merubah bangsa ini adalah
orang mempunyai moral yang kuat, intelektual yang tinggi, bukan sekedar modal.
Inilah yang menjadi problematika euforia
demokrasi ini, sebagian besar yang menduduki kursi-kursi wakil rakyat bukan
golongan orang berintelektual dan bermoral tinggi melainkan orang-orang yang
menang dalam ‘Modal’.
Lalu bagaimana bangsa ini bisa maju? Moral
lemah akal kurang?! Orang-orang yang hanya punya uang bermoral lemah tidak
pernah peduli dengan bangsa ini, mereka hanya akan menjadi koruptor-koruptor,
penghisap darah, dan musuh dalam selimut—disangka kawan ternyata
lawan—bobroknya demokrasi Indonesia. Orang-orang semacam inilah yang kebanyakan
dipilih oleh rakayat yang tidak melek terhadap politik. Tanpa mengurangi rasa
hormat, orang-orang yang tidak berpendidikan dan bermental preman akan bersikap
santai dan tenang-tenang saja menyikapi orang-orang seperti ini dan menanggapi
dengan sikap pesimis. Nah, inilah yang harus dirubah.
Demokrasi dikatakan baik apabila orang-orang
yang berpartisipasi didalamnya mempunyai kekuatan intelektual dan tingkat
kecerdasan yang sama dan mempunyai rasa empatik dan rasa politik yang baik.
Akan tetapi bila terjadi ketidak seimbangan, katakanlah bahwa sebuah suara seorang
ulama besar ataupun seorang professor disamakan dengan suara tukang rampok,
tukang copet, tukang palak, mau dikemanakan negeri ini? Jelas saja mereka bukan
orang yang peduli pada orang lain tetapi ikut serta dalam pemilihan umum yang
katanya demokratis.
Sistem demokrasi didesak harus dibungkam,
diganti dengan cara yang lebih baik. Cara musyawarah atau mufakat mempunyai
akibat yang lebih positif dan kekurangan yang lebih sedikit dibanding
demokrasi.
Melalu mufakat pemilihan pemimpin bisa
dimusyawarahkan bersama melalui track
record yang baik sehingga mempunyai kualitas dan kapabilitas untuk memimpin
suatu lembaga bahkan negeri ini. Nah, orang-orang yang ada didalam mufakat
inilah yang terus dicermati apabila terdapat penyelewengan maka jelas siapa
yang harus disalahkan.
Sistem mufakat tidak akan menyamakan antara
suara seorang professor dengan suara tukang preman pasar sehingga diharapkan
pemikirannya dapat membantu perubahan negeri ini yang lebih baik.
-Habibullah Boktobibi-
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: