Monday, December 23, 2013

Cerpen; Maaf, Ibu


 Malam itu sesosok mata melotot tajam pada seorang wanita tua. Saat langit sedang bergemuruh diiringi kilatan petir yang bersinar tajam. Awan menurunkan air hujan--deras sekali--hingga hanya terdengar rintik hujan ke dalam rumah itu. Tiba-tiba “Prak! Prak!”, hamburan rak plastik merah muda berantakan akibat diterjang kaki seorang anak laki-laki--tepat di ruangan tengah dengan lebar 3 meter persegi sebuah rumah yang hanya tersekat triplek dengan beranda depan. Marah. Entah apa yang terjadi dengannya--mungkin saja manjanya kumat.

Bunuh saja aku! Untuk apa aku hidup?! Ayo bunuh aku!” 
Di sela kalimat itu terlihat seorang ibu bercucuran air mata memungut satu per satu tiang rak plastik yang rusak; berantakan akibat terjangan kaki. Ibu itu menangis, sedih. Ia menjawab terisak-isak pelan, “Nak, Jika aku tidak mencintaimu tentu aku tidak akan merawatmu, aku tidak akan membesarkanmu, dan jika aku mau dari dulu aku bisa membunuhmu kapan saja! Tapi tidak, nak!” Wanita itu balas melotot pada anaknya--menegarkan diri. Anak lelaki itu diam.

Ayah menyaksikan ibu meng-iba diri. Bak dirinya telah melakukan banyak kesalahan pada anaknya. Ayah mencoba membela ibu, “Apa yang kau lakukan pada ibumu, hah?! Kau tahu menyakiti ibumu adalah perbuatan dosa!” Suuara itu keras sekali, terdengar lantang, dan tegas. “Apa belum cukup apa yang kami berikan?” Ayah mulai naik darah. Tapi sebenarnya dalam kalimat itu ada pendidikan, emosi, amarah, bergema satu.

Anak lelaki kecil itu diam. Masih diam. Menyaksikan ibunya yang masih terisak-isak. Lalu menatap kosong mencoba menguasai diri, dan tak sadar sikap spontan yang telah ia perbuat. Pikirannya mulai melayang jauh teringat sabda sang nabi bahwa “Tidaklah masuk surga yang menyakiti ibunya”. Hatinya berangsur luluh, getir, sedih tak terperi menyaksikan wanita didepannya tak henti menangis. Bayangan-bayangan kedurhakaan silih berganti membayang dalam benaknya--bayangan perbuatan dosa, bayangan kemurkaan Tuhan, bayangan neraka menyala yang menanti pembalasan.

Ibu... Aku minta maaf. Maaf ibu, Maaf. Maaf, bu..” Anak lelaki itu mendekati ibu. Meraih tubuh sang ibu setelah memberontak pada diam yang sejak tadi membekukan tubuhnya.

Ibu menguatkan diri. Mencoba manatap anak yang sedang menangis. Sedang lekat memeluknya. Ia sadar, sayang tak dapat disembunyikan, cinta tak mungkin tidak memaafkan. Itu saja. Mudah sekali ibu memaafkan. Melupakan kejadian tadi; perbuatan durhaka anak itu. Malah balik mencumi kepala anak lelaki itu, pun dibalas memeluk erat.

Ayah lega. Ia pun terharu, memeluk anak dan ibu itu--istri dan anak yang sangat ia cintai. Malam itu berakhir diiringi riuh-riuh angin dingin yang menyelinap melalui pintu kamar. Dramatis. Gemuruh dan Petir ramah, pelan mulai berhenti, tinggal hujan yang masih turun.  

-HB.Boktobibi-

No comments:

Post a Comment

Name:
Subject:
Messages: