Malam itu sesosok
mata melotot tajam pada seorang wanita tua. Saat langit sedang bergemuruh
diiringi kilatan petir yang bersinar tajam. Awan menurunkan air hujan--deras
sekali--hingga hanya terdengar rintik hujan ke dalam rumah itu. Tiba-tiba “Prak!
Prak!”, hamburan rak plastik merah muda berantakan akibat diterjang kaki
seorang anak laki-laki--tepat di ruangan tengah dengan lebar 3 meter persegi
sebuah rumah yang hanya tersekat triplek dengan beranda depan. Marah. Entah apa
yang terjadi dengannya--mungkin saja manjanya kumat.
“Bunuh saja
aku! Untuk apa aku hidup?! Ayo bunuh aku!”
Ayah menyaksikan
ibu meng-iba diri. Bak dirinya telah melakukan banyak kesalahan pada
anaknya. Ayah mencoba membela ibu, “Apa yang kau lakukan pada ibumu, hah?!
Kau tahu menyakiti ibumu adalah perbuatan dosa!” Suuara itu keras sekali,
terdengar lantang, dan tegas. “Apa belum cukup apa yang kami berikan?”
Ayah mulai naik darah. Tapi sebenarnya dalam kalimat itu ada pendidikan, emosi,
amarah, bergema satu.
Anak lelaki kecil
itu diam. Masih diam. Menyaksikan ibunya yang masih terisak-isak. Lalu menatap
kosong mencoba menguasai diri, dan tak sadar sikap spontan yang telah ia
perbuat. Pikirannya mulai melayang jauh teringat sabda sang nabi bahwa
“Tidaklah masuk surga yang menyakiti ibunya”. Hatinya berangsur luluh, getir,
sedih tak terperi menyaksikan wanita didepannya tak henti menangis.
Bayangan-bayangan kedurhakaan silih berganti membayang dalam benaknya--bayangan
perbuatan dosa, bayangan kemurkaan Tuhan, bayangan neraka menyala yang menanti
pembalasan.
“Ibu... Aku
minta maaf. Maaf ibu, Maaf. Maaf, bu..” Anak lelaki itu mendekati ibu.
Meraih tubuh sang ibu setelah memberontak pada diam yang sejak tadi membekukan
tubuhnya.
Ibu menguatkan
diri. Mencoba manatap anak yang sedang menangis. Sedang lekat memeluknya. Ia
sadar, sayang tak dapat disembunyikan, cinta tak mungkin tidak memaafkan. Itu
saja. Mudah sekali ibu memaafkan. Melupakan kejadian tadi; perbuatan durhaka
anak itu. Malah balik mencumi kepala anak lelaki itu, pun dibalas memeluk erat.
Ayah lega. Ia pun
terharu, memeluk anak dan ibu itu--istri dan anak yang sangat ia cintai. Malam
itu berakhir diiringi riuh-riuh angin dingin yang menyelinap melalui pintu
kamar. Dramatis. Gemuruh dan Petir ramah, pelan mulai berhenti, tinggal hujan
yang masih turun.
-HB.Boktobibi-
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: