Donoasih, 25 Desember 2013
![]() |
| Desa Wisata Donoasih |
Mereka kurang lebih sama dengan mahasiswa pada umumnya, dengan ekonomi terbatas dan masih menerima uang saku bulanan dari orang tua. Juga sama sepertiku. Sepintas tidak ada yang berbeda. Pakaiannya biasa saja. Tas hanya berisi buku-buku mata kuliah, binder, dan buku saku mata kuliah. Kadang ada juga yang membawa laptop. Itupun kalau beruntung.
Namun jika kalian mau sedikit memperhatikan mereka sedikit lebih jauh, sebenarnya ada yang menarik yang bisa kalian tiru. Semangat dan tanggung jawab mereka. Tak semua anak disini pintar, mereka hanyalah kumpulan mahasiswa yang mencoba dan berusaha melakukan untuk mendapatkan sesuatu itu.
Jikalau kalian berkenan akan aku ceritakan sedikit cerita tentang mereka. Tentang betapa istimewanya mereka.
Rabu ini, kebetulan hari libur Nasional. Libur Internasional malah. Tapi itu tidak penting. Aku hanya ingin mengatakan saat hari libur seperti ini mereka tidak menggunakannya untuk tidur, pergi main tanpa tujuan, atau hanya sekedar nonton gosip di televisi kosan. Bukan. Mereka memiliki satu desa binaan. Namanya Desa Donoasih. Jika kalian ingin tahu letaknya, silahkan kunjungi desa ini di daerah Sleman, Yogyakarta. Dari arah jalan Magelang KM 10 kalian hanya perlu mencari resto Jejamuran yang terkenal itu, lalu lurus saja ke atas, kalian akan menemukan desanya.
Bukan sekedar nama. Atau sekedar membentuk citra seperti orang-orang tokoh politik. Sama sekali bukan. Mereka sedang berjuang disini. Aku tahu kalian semakin penasaraan apa yang mereka lakukan. Tenang saja, aku akan mencoba menjelaskannya perlahan, sedikit banyak dapatlah menceritakan kisah mereka.
Beberapa periode lalu--hampir tujuh bulan belakangan--proposal yang diajukan oleh salah satu kelompok mahasiswa di DEMA di terima dan didanai oleh Dinas Pendidikan untuk melakukan Program Hibah Bina Desa (PHBD) di desa ini. Itupun setelah diseleksi dengan proses yang panjang. Diseleksi secara Nasional. Lalu mereka membuktikan proposal yang mereka ajukan--Program desa wisata Desa Donoasih--layak untuk didanai.
Singkat cerita saja, hingga saat ini dana itu bergulir dan mereka mempertanggung jawabkan. Dosen fakultas pun ikut membantu. Sebagai pembimbing.
Semuanya harus dipersiapkan dengan matang. Dapat aku sebutkan secara umum; mereka menyiapkan lahan, pembentukan struktural organisasi desa wisata lengkap dengan pengelola, pembentukan kelompok tani, membantu membuat pagar, dan lain-lain--Menjadi fasilitator handal bagi warga masyarakat Donoasih. Luar biasa. Selebihnya berjalan atau tidak, bagus atau tidak desa tersebut tetap ada pada warga masyarakat itu sendiri. Mereka harus mandiri. Anak-anak mahasiswa dari berbagai suku, etnis, dan latar belakang yang berbeda (Sumatera, Jawa, Melayu Belitong, dan lain-lain) dapat bekerjasama dengan baik.
Aku beritahu kalian. disela kesibukan jadwal kuliah dan kegiatan organisasi dan kadang juga bisnis kecil-kecilan, mereka mampu melakukan pekerjaan ini dengan baik.
Oh ya aku sedang tidak ingin banyak bicara. Tidak ingin bercerita banyak. Jika kalian benar-benar ingin tahu atau pun yang ingin belajar budidaya salak, menikmati salak, dan apapun tentang salak silahkan kunjungi desa wisata garapan anak-anak muda istimewa ini, tempatnya di Donoasih, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Untuk saat ini, tepat ketika artikel ini ditulis, mereka masih berjuang.
Untuk saat ini, tepat ketika artikel ini ditulis, mereka masih berjuang.

No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: