Malam itu sesosok
mata melotot tajam pada seorang wanita tua. Saat langit sedang bergemuruh
diiringi kilatan petir yang bersinar tajam. Awan menurunkan air hujan--deras
sekali--hingga hanya terdengar rintik hujan ke dalam rumah itu. Tiba-tiba “Prak!
Prak!”, hamburan rak plastik merah muda berantakan akibat diterjang kaki
seorang anak laki-laki--tepat di ruangan tengah dengan lebar 3 meter persegi
sebuah rumah yang hanya tersekat triplek dengan beranda depan. Marah. Entah apa
yang terjadi dengannya--mungkin saja manjanya kumat.
“Bunuh saja
aku! Untuk apa aku hidup?! Ayo bunuh aku!”