Perjalanan hidup tidak selamanya mulus—kadang tidak
sesuai dengan apa yang kita harapkan—menciptakan masalah-masalah yang
menghambat produktivitas dan gangguan terhadap diri secara psikologis maupun
fisik. Intensitas dan kualitas setiap masalah pun berbeda-beda terkadang
tergantung bagaimana ketika menyikapinya. Pada setiap masalah pasti selalu ada
respon, dan respon itulah yang akan menentukan akibat dari masalah tersebut;
baik atau buruk.
Bisa jadi ada orang yang mengalami/mendapatkan kadar
masalah yang sama tetapi mendapatkan hasil yang berbeda—satunya berubah menjadi
lebih tegar dan satunya menjadi lebih terpuruk—sikap dan mental pelakunya
sangat menentukan apa yang akan terjadi setelahnya.
Respon terhadap masalah dipengaruhi oleh beberapa hal,
diantaranya pengalaman, dukungan, pola pikir, dan mood/sikis saat menghadapi
masalah. Buruknya pengalaman terutama akibat kemanjaan diri dan kurangnya cara
pikir positif/optimis cenderung membuat seseorang merespon masalah dengan cara
negatif sehingga menghasilkan hasil yang negatif atau dapat disebut dengan apa
yang tidak sesuai yang diharapkan.
Ketika intensitas masalah menjadi lebih rapat dengan
kata lain masalah datang bertubi-tubi—masalah satu belum selesai, datang
masalah lain ataupun masalah tersebut datang secara bersamaan—terjadi penekanan
pada psikis dan mental, kadang menimbulkan permasalahan baru akibat respon dari
masalh yang bertubi-tubi tersebut walaupun dengan kapasitas yang kecil/masalah
sepele. Walau masalah sepele tetapi intensitas masalahnya tinggi/datang secara
bersamaan sekilas masalah-masalah tersebut terlihat perkasa sehingga membunuh
psikis baik sehingga mengakibatkan pelemahan secara fisik/jasmani.
Sederhana tetapi sebenarnya hal diatas itulah yang
seharusnya perlu diperhatikan. Ketika kita merasakan masalah telah menyesakkan
dada, pikiran dihantui rasa takut, mental terpuruk, dan lain-lain maka itulah
saat yang kritis memaksa kita berhenti sejenak, sebenarnya sebesar apa masalah
yang sedang/akan kita hadapi.
Setelah pikiran berpikir rasional kadang kita
menemukan jawaban atas permasalahn-permasalahan yang ada, hal ini kembali
menguatkan psikis dan mental untuk menghadapinya dengan semangat optimisme dan
pikiran positif. Pikiran rasional akan membagi-bagikan/mengelompokkan setiap
masalah yang ada menjadi beberapa bagian berbeda. Setelah itu timbul persepsi
masalah manakah yang mendesak untuk diselesaikan—masalah paling penting, kurang
penting, tidak penting dan beberapa bagian lainnya—skala prioritas tersebut akan
menawarkan solusi, dan dari solusi diharapkan mampu memberikan penyelesaian
terhadap permasalahan tersbut.
Namun, adakalanya seseorang tidak dapat lagi membuat
skala prioritas pada masalah tersebut, dimana ketika setiap masalah dirasa
besar dan sama mendesak untuk diselesaikan. Contoh saja, ketika seorang suami
dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja, lalu anaknya sedang membutuhkan uang
untuk keperluan biaya sekolah, anak kedua sedang sakit keras dan butuh perwatan
medis secepatnya dan sang istri sedang hamil tua untuk melahirkan anak
ketiganya. Pada kasus tersebut bisa dianggap setiap masalah tersebut memiliki
skala prioritas dan kepentingan yang sama. Saat-saat seperti itulah mental sang
suami yang sangat mencintai keluarganya tersbut benar-benar terpuruk. Hal ini
penyelesaian berdasarkan skala prioritas kurang efektif untuk dilakukan. Kadang
kasus ini membuat si suami bunuh diri ataupun mengalami gangguan kejiwaan
karena tidak adanya dorongan yang kuat dari internal dan eksternal.
Dorongan internal sebenarnya berperan lebih penting
dibandingkan faktor eksternal dimana sebenarnya masalah tidak lebih dari
sekedar sebuah gagasan yang dibuat oleh pikiran seseorang yang berasal faktor
internalnya. Dorongan yang kuat harus berasal dari keyakinan agama, moral, dan
karakter yang kuat. Faktor agama akan mengajarkan kepadanya bahwa Tuhan itu
Maha Pemelihara (Al-Muhaimiin) sehingga
ia yakin Sang Khalik tidak akan menelantarkan dan menyia-nyiakannya, dan yakin
Tuhan tidak akan memberi cobaan pada hambanya melainkan sekedar kesanggupannya.
Faktor moral mengajarkan tentang sikap dan mental untuk tidak berputus asa,
tetap berkepala tegak menghadapi buruknya gagasan yang diciptakan tersebut.
Faktor karakter menguatkannya bahwa ia adalah sosok pekerja keras, mandiri,
tegar, dan tidak pernah tersia-siakan oleh masalah.
Sedangkan dorongan eksternal diharapkan berasal dari
orang-orang terdekat dalam keseharian maupun teman-teman jauhnya. Ketika ada
kekuatan dari orang lain, katakan saja bahwa orang lain peduli dengan keadaannya,
orang lain menghiburnya, dan lain-lain maka hal-hal yang tampak simbolis
tersbut berdampak besar pada psikis pelaku yang sedang mengalami masalah
tersebut.
Setelah keduanya benar-benar tertanam pada dirinya
maka akan timbul gerakan untuk menuntaskan permasalahan tersebut.
Penyelesaiannya cepat, gigih, dan ulet.
Perlu ditekankan untuk menghadapi masalah semacam ini
perlu kepasrahan diri yang sebenar-benarnya pada Yang Maha Kuasa, tadakan
tangan, mohon kepada-Nya—tidak ada masalah yang lebih baik diceritakan kecuali
kepada-Nya saja; Dia memberi kita pertolongan tetapi curhat kepada manusia
belum pasti faedahnya—saat hati tenang dalam kepasrahan sebenarnya saat itulah
ada secercah harapan bahwa kehidupan kita akan kembali membaik seperti sedia
kala. Bersyukurlah, mudah-mudahan Allah SWT menambahkan nikmat-Nya, jika tidak
ketahuilah siksa-Nya sangatlah pedih. Wallahu a’lam.
-Habibullah Boktobibi-
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: