Friday, July 26, 2013

Saat Masalah Menyesakkan Dada

 
Perjalanan hidup tidak selamanya mulus—kadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan—menciptakan masalah-masalah yang menghambat produktivitas dan gangguan terhadap diri secara psikologis maupun fisik. Intensitas dan kualitas setiap masalah pun berbeda-beda terkadang tergantung bagaimana ketika menyikapinya. Pada setiap masalah pasti selalu ada respon, dan respon itulah yang akan menentukan akibat dari masalah tersebut; baik atau buruk.
Bisa jadi ada orang yang mengalami/mendapatkan kadar masalah yang sama tetapi mendapatkan hasil yang berbeda—satunya berubah menjadi lebih tegar dan satunya menjadi lebih terpuruk—sikap dan mental pelakunya sangat menentukan apa yang akan terjadi setelahnya.

Respon terhadap masalah dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya pengalaman, dukungan, pola pikir, dan mood/sikis saat menghadapi masalah. Buruknya pengalaman terutama akibat kemanjaan diri dan kurangnya cara pikir positif/optimis cenderung membuat seseorang merespon masalah dengan cara negatif sehingga menghasilkan hasil yang negatif atau dapat disebut dengan apa yang tidak sesuai yang diharapkan.
Ketika intensitas masalah menjadi lebih rapat dengan kata lain masalah datang bertubi-tubi—masalah satu belum selesai, datang masalah lain ataupun masalah tersebut datang secara bersamaan—terjadi penekanan pada psikis dan mental, kadang menimbulkan permasalahan baru akibat respon dari masalh yang bertubi-tubi tersebut walaupun dengan kapasitas yang kecil/masalah sepele. Walau masalah sepele tetapi intensitas masalahnya tinggi/datang secara bersamaan sekilas masalah-masalah tersebut terlihat perkasa sehingga membunuh psikis baik sehingga mengakibatkan pelemahan secara fisik/jasmani.
Sederhana tetapi sebenarnya hal diatas itulah yang seharusnya perlu diperhatikan. Ketika kita merasakan masalah telah menyesakkan dada, pikiran dihantui rasa takut, mental terpuruk, dan lain-lain maka itulah saat yang kritis memaksa kita berhenti sejenak, sebenarnya sebesar apa masalah yang sedang/akan kita hadapi.
Setelah pikiran berpikir rasional kadang kita menemukan jawaban atas permasalahn-permasalahan yang ada, hal ini kembali menguatkan psikis dan mental untuk menghadapinya dengan semangat optimisme dan pikiran positif. Pikiran rasional akan membagi-bagikan/mengelompokkan setiap masalah yang ada menjadi beberapa bagian berbeda. Setelah itu timbul persepsi masalah manakah yang mendesak untuk diselesaikan—masalah paling penting, kurang penting, tidak penting dan beberapa bagian lainnya—skala prioritas tersebut akan menawarkan solusi, dan dari solusi diharapkan mampu memberikan penyelesaian terhadap permasalahan tersbut.
Namun, adakalanya seseorang tidak dapat lagi membuat skala prioritas pada masalah tersebut, dimana ketika setiap masalah dirasa besar dan sama mendesak untuk diselesaikan. Contoh saja, ketika seorang suami dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja, lalu anaknya sedang membutuhkan uang untuk keperluan biaya sekolah, anak kedua sedang sakit keras dan butuh perwatan medis secepatnya dan sang istri sedang hamil tua untuk melahirkan anak ketiganya. Pada kasus tersebut bisa dianggap setiap masalah tersebut memiliki skala prioritas dan kepentingan yang sama. Saat-saat seperti itulah mental sang suami yang sangat mencintai keluarganya tersbut benar-benar terpuruk. Hal ini penyelesaian berdasarkan skala prioritas kurang efektif untuk dilakukan. Kadang kasus ini membuat si suami bunuh diri ataupun mengalami gangguan kejiwaan karena tidak adanya dorongan yang kuat dari internal dan eksternal.
Dorongan internal sebenarnya berperan lebih penting dibandingkan faktor eksternal dimana sebenarnya masalah tidak lebih dari sekedar sebuah gagasan yang dibuat oleh pikiran seseorang yang berasal faktor internalnya. Dorongan yang kuat harus berasal dari keyakinan agama, moral, dan karakter yang kuat. Faktor agama akan mengajarkan kepadanya bahwa Tuhan itu Maha Pemelihara (Al-Muhaimiin) sehingga ia yakin Sang Khalik tidak akan menelantarkan dan menyia-nyiakannya, dan yakin Tuhan tidak akan memberi cobaan pada hambanya melainkan sekedar kesanggupannya. Faktor moral mengajarkan tentang sikap dan mental untuk tidak berputus asa, tetap berkepala tegak menghadapi buruknya gagasan yang diciptakan tersebut. Faktor karakter menguatkannya bahwa ia adalah sosok pekerja keras, mandiri, tegar, dan tidak pernah tersia-siakan oleh masalah.
Sedangkan dorongan eksternal diharapkan berasal dari orang-orang terdekat dalam keseharian maupun teman-teman jauhnya. Ketika ada kekuatan dari orang lain, katakan saja bahwa orang lain peduli dengan keadaannya, orang lain menghiburnya, dan lain-lain maka hal-hal yang tampak simbolis tersbut berdampak besar pada psikis pelaku yang sedang mengalami masalah tersebut.
Setelah keduanya benar-benar tertanam pada dirinya maka akan timbul gerakan untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Penyelesaiannya cepat, gigih, dan ulet.
Perlu ditekankan untuk menghadapi masalah semacam ini perlu kepasrahan diri yang sebenar-benarnya pada Yang Maha Kuasa, tadakan tangan, mohon kepada-Nya—tidak ada masalah yang lebih baik diceritakan kecuali kepada-Nya saja; Dia memberi kita pertolongan tetapi curhat kepada manusia belum pasti faedahnya—saat hati tenang dalam kepasrahan sebenarnya saat itulah ada secercah harapan bahwa kehidupan kita akan kembali membaik seperti sedia kala. Bersyukurlah, mudah-mudahan Allah SWT menambahkan nikmat-Nya, jika tidak ketahuilah siksa-Nya sangatlah pedih. Wallahu a’lam.

-Habibullah Boktobibi-

No comments:

Post a Comment

Name:
Subject:
Messages: