Pendidikan merupakan aktivitas penting yang
harus mendapatkan perhatian lebih dari semua kalangan. Pendidikan menjadi
sarana bagi seseorang untuk belajar untuk mendapatkan sesuatu yang baru yang
akan membantunya untuk berkembang dan meningkatkan kualitas kehidupannya di
dalam bermasyarakat.
Pendidikan tidak terbatas kepada siapa saja,
dan pendidikan akan mengajarkan ilmu baru kepada seseorang dimana saja dan
kapan saja saat seseorang telah siap untuk belajar. Baiknya pendidikan
seseorang ke arah positif akan membuat seseorang itu diterima, dibutuhkan,
disegani oleh masyarakat atas kemanfaatan ilmu yang dimilikinya.
Sebaliknya,
ilmu yang bersifat negatif/merugikan akan meresahkan masyarakat karena bersifat
ingin memenuhi kebutuhan pribadi dengan cara merugikan orang lain. Hal ini
dapat contohkan; sesorang yang memperoleh ilmu untuk merakit sebuah senjata
api, namun dilain sisi pendidikan moralnya sangat kurang, maka ia akan
menggunakan senjata api tersebut untuk merampok, membunuh, dan lain-lain. Akan
tetapi bagi seseorang yang baik dari kedua sisi tersebut maka ia menggunakan
senjata api tersebut sebagai alat terakhir untuk keperluan keamanan masyarakat
dari bahaya yang mengancam, dan lain sebagainya.
Perlunya kesadaran dari semua kalangan
masyarakat akan pentingnya setiap pendidikan atau memperhatikan setiap aplikasi
ilmu yang dimilikinya. Disfungsi pendidikan seakan terjadi disemua kalangan,
betapa tidak; seorang pejabat/oknum tertentu saja yang memiliki ilmu pendidikan
umum yang tinggi menggunakan sarana yang dimilikinya untuk melakukan korupsi
tingkat ntinggi dengan cara profesional sehingga sulit diketahui oleh orang
lain. Pada hal tersebut yang kurang bukanlah ilmu pendidikan dibidang umumnya,
melainkan pendidikan moral yang tidak terjaga atau tidak terajarkan dengan baik
sehingga terjadi ketidakseimbangan yang mengakibatkan kerugian pada pihak
masyarakatnya.
Kesadaran ini perlu ditumbuhkan, terutama pada
setiap pendidik dan orang tua—sebagai lingkungan bagi seseorang—untuk terus
berkembang. Hal ini disebabkan pendidik dan orang tua mempunyai fungsi
strategis dalam peranan pekembangan sebuah generasi. Sebuah generasi telah
dikatakan ibarat seperti lembar kertas putih suci, tinta pena dari pendidiklah
yang akan mewarnai dan mengisi torehan didalamnya. Lingkungan—Teman, tempat
hidup, iklim, daerah, dan lain-lain—akan membedakan cara seseorang menerima,
menanggapi, dan bereaksi terhadap pendidikan yang diberikan kepadanya. Selama
pendidikan yang tersampaikan tidak menyimpang dari nilai-nilai masyarakat maka
itu tidak akan masalah; perbedaan cara dan berekasi hanya akan mewarnai
keunikan dalam masyarkat.
Diantara pendidikan-pendidikan dasar yang
penting adalah pendidikan Agama, moral, karakter, dan nilai-nilai dalam
masyarakat yang diaplikasikan sebagai kebutuhan mendesak agar seseorang dapat
diterima, disegani, dan dibutuhkan dalam bermasyarakat sehingga terbentuk
hubungan timbal balik yang menguntungkan diantara keduanya.
Kurangnya pendidikan dasar yang tersebut diatas
menyebabkan seseorang berprilaku menyimpang sehinga dibenci, dijauhi, dikecam
oleh masyarakat sebagaimana yang dikatakan oleh orang minang sebagai kacang miang dalam nagari. Kacaangnya
membuat gatal seluruh negeri artinya membuat resah masyarakat; dimana ia hidup
disitu ia menimbulkan kerugian bagi masyarakatnya, datangnya tidak diharapkan,
perginya menjadi kegembiraan, Na’udzubillah.
Pendidikan primer yang didapat melalui kedua
orang tua berperan penting dalam kelangsungan perkembangan seseorang untuk
beradaptasi dalam bermasyarakat. Pendidikan primer adalah pendidikan pertama
yang didapat oleh setiap individu baru ketikia ia lahir ke dunia. Pendidikan
primer mengajarkan individu baru dasar-dasar berinteraksi dengan orang lain.
Baiknya pendidikan primer maka akan membantu kelancaran dalam proses pendidikan-pendidikan
selanjutnya. Seperti; ajarkan bayi bagaimana tersenyum, katakan padanya
perkataan yang baik—walau ia belum mengerti—didoakan menjadi anak baik,
perbanyak sentuhan yang akan memberikan rasa aman pada sang bayi, dan
lain-lain. Gagalnya pendidikan primer akan membuat individu baru tersebut
canggung dalam berinteraksi dengan lingkungan, dikhawatirkan individu tersebut
juga akan gagal dalam menempuh pendidika selanjutnya. Sehingga menjadi kacang miang dalam suatu masyarakat.
-Habibullah Boktobibi-
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: