Friday, July 26, 2013

Pemimpin “Dipilih” atau “Terpilih”?



Sebagian besar orang mungkin mencoba terlihat menonjol diantara orang-orang di lingkungannya guna mendapat sesuatu yang ia inginkan. Ada yang mencoba menjadi malaikat siang, malaikat malam, super penolong, dan mendadak npahlawan atau semacamnya. Artinya ia mencoba mengorban sesuatu untuk kepentingannya. Akan tetapi tidak banyak yang sanggup melakukannya secara kesinambungan.
Selain itu, ada juga yang mencoba terlihat menonjol dengan cara mencari perhatian orang lain, kadang-kadang terlihat sok peduli, dan lain sebagainya. Salah satu alasannya adalah untuk menjadi pemimpin diantara orang-orang itu.
Gaya yang tidak khas/tidak terbiasa membuat seseorang seolah-olah merasa seperti seseorang ‘pemimpin’ akan tetapi dia tidak lebih dari sekedar seorang boss yang mencoba mejadi ‘pemimpin’.

Seorang yang tidak terlahir sebagai ‘pemimpin’ awalnya akan terlihat lucu dengan gayanya yang lebih menonjol dibanding orang lain, tetapi juga suka memerintah seenaknya hingga hal-hal kecil sekalipun yang bisa ia lakukan sendiri, karena merasa ‘diatas’ maka ego kesombongannya enggan melakukannya.
Ya, menjadi seorang ‘pemimpin’ lebih dari sekedar seorang bos. Jika ada anggapan bahwa pemimpin itu bisa menjadi bos, tetapi tidak semua bos bisa menjadi pemimpin, saya yakini benar adanya.
Seorang bos dihormati tidak lebih dari sekedar status yang disandang olehnya. Terlepas dari semua yang dimilikinya—status sosial; jabatan, harta dan lain sebagainya—ia tidak mempunyai nilai lebih di mata orang lain. Bisa disimpulkan ia hanyalah orang besar karena status sosial yang disandang olehnya.
Seorang terlihat bossy ketika ia suka mengatur-atur, memerintah, pemarah, congkak, sombong dan egois.
Berbeda dengan seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seperti menjadi bawahan bagi orang lain akan tetapi sebenarnya ia berada diatas mereka yang beranggapan seperti itu. Artinya ketika seseorang mampu melayani orang-orang dilingkungannya dengan baik, ibarat apabila jatuh ia tegakkan, apabila sedih ia menghibur, apabila ada masalah ia memberi solusi. Sekilas ia persis seperti seorang pelayan bagi orang lain. Namun, uniknya ketika ia membutuhkan orang lain, orang lain tersebut akan dengan senang hati ketika ia memberikan perintah kepadanya, perintahnya membuat seseorang merasa dihormati dan ditunggu-tunggu oleh orang lain, persis seperti sebuah penganugrahan sebuah kehormatan.
Tidak semua orang sanggup melakukannya. Umumnya orang yang terlahir dengan bakat pemimpin lahir dari orang-orang besar, seperti kawula bangsawan kerajaan. Orang yang terbiasa melayani orang lain dengan baik, mengayomi, pelindung, dan menjadi benteng terdepan bagi orang lain.
Kemampuannya-lah yang membuatnya besar—tidak peduli dimana saja ia berada—dimana ia singgah isitu orang lain suka; ibarat kembang layu kembali dimekarkan, tanah tandus disuburkan ibarat diguyur hujan setelah kemarau panjang. Intinya ia penyejuk hati bagi diri orang lain.
Jelaslah ketika seseorang pemimpin hadir ditengah-tengah masyarakat maka ia akan menjadi panutan didalamnya. Ia tidak menunjuk dirinya sebagai raja tetapi orang lain-lah yang mengankatnya sebagai seorang raja/orang besar ditengah-tengah mereka—dengan ia sadari ataupun tidak—ia abadi dalam hati orang lain.
Bisa jadi semua orang menginginkannya tetapi sudah pasti tidak semua orang mampu melakukannya. “Susahnya bukan kepalang, dukanya tiada dapat dihalang, buahnya pun segar nikmat diinginkan semua orang”.
Pemimpin besar yang tidak tertandingi saat ini ialah Nabi Muhammad SAW, nabi terkahir umat muslim. Hadirnya dhormati kawan, dan datangnya disegani lawan. Seorang yatim yang terkenal ke pelosok-pelosok dunia oleh kepemimpinannya, setelah sekian abad namanya selalu disanjung-sanjung hingga saat ini. Ia adalah sosok tauladan Pemimpin sejati.

No comments:

Post a Comment

Name:
Subject:
Messages: