Selain itu, ada juga yang mencoba terlihat
menonjol dengan cara mencari perhatian orang lain, kadang-kadang terlihat sok peduli, dan lain sebagainya. Salah
satu alasannya adalah untuk menjadi pemimpin diantara orang-orang itu.
Gaya yang tidak khas/tidak terbiasa membuat
seseorang seolah-olah merasa seperti seseorang ‘pemimpin’ akan tetapi dia tidak
lebih dari sekedar seorang boss yang mencoba mejadi ‘pemimpin’.
Seorang yang tidak terlahir sebagai ‘pemimpin’
awalnya akan terlihat lucu dengan gayanya yang lebih menonjol dibanding orang
lain, tetapi juga suka memerintah seenaknya hingga hal-hal kecil sekalipun yang
bisa ia lakukan sendiri, karena merasa ‘diatas’ maka ego kesombongannya enggan
melakukannya.
Ya, menjadi seorang ‘pemimpin’ lebih dari
sekedar seorang bos. Jika ada anggapan bahwa pemimpin itu bisa menjadi bos,
tetapi tidak semua bos bisa menjadi pemimpin, saya yakini benar adanya.
Seorang bos dihormati tidak lebih dari sekedar
status yang disandang olehnya. Terlepas dari semua yang dimilikinya—status
sosial; jabatan, harta dan lain sebagainya—ia tidak mempunyai nilai lebih di
mata orang lain. Bisa disimpulkan ia hanyalah orang besar karena status sosial
yang disandang olehnya.
Seorang terlihat bossy ketika ia suka mengatur-atur, memerintah, pemarah, congkak,
sombong dan egois.
Berbeda dengan seorang pemimpin. Seorang
pemimpin adalah seperti menjadi bawahan bagi orang lain akan tetapi sebenarnya
ia berada diatas mereka yang beranggapan seperti itu. Artinya ketika seseorang
mampu melayani orang-orang dilingkungannya dengan baik, ibarat apabila jatuh ia
tegakkan, apabila sedih ia menghibur, apabila ada masalah ia memberi solusi.
Sekilas ia persis seperti seorang pelayan bagi orang lain. Namun, uniknya
ketika ia membutuhkan orang lain, orang lain tersebut akan dengan senang hati
ketika ia memberikan perintah kepadanya, perintahnya membuat seseorang merasa
dihormati dan ditunggu-tunggu oleh orang lain, persis seperti sebuah
penganugrahan sebuah kehormatan.
Tidak semua orang sanggup melakukannya. Umumnya
orang yang terlahir dengan bakat pemimpin lahir dari orang-orang besar, seperti
kawula bangsawan kerajaan. Orang yang terbiasa melayani orang lain dengan baik,
mengayomi, pelindung, dan menjadi benteng terdepan bagi orang lain.
Kemampuannya-lah yang membuatnya besar—tidak
peduli dimana saja ia berada—dimana ia singgah isitu orang lain suka; ibarat
kembang layu kembali dimekarkan, tanah tandus disuburkan ibarat diguyur hujan
setelah kemarau panjang. Intinya ia penyejuk hati bagi diri orang lain.
Jelaslah ketika seseorang pemimpin hadir
ditengah-tengah masyarakat maka ia akan menjadi panutan didalamnya. Ia tidak
menunjuk dirinya sebagai raja tetapi orang lain-lah yang mengankatnya sebagai
seorang raja/orang besar ditengah-tengah mereka—dengan ia sadari ataupun tidak—ia
abadi dalam hati orang lain.
Bisa jadi semua orang menginginkannya tetapi
sudah pasti tidak semua orang mampu melakukannya. “Susahnya bukan kepalang,
dukanya tiada dapat dihalang, buahnya pun segar nikmat diinginkan semua orang”.
Pemimpin besar yang tidak tertandingi saat ini
ialah Nabi Muhammad SAW, nabi terkahir umat muslim. Hadirnya dhormati kawan,
dan datangnya disegani lawan. Seorang yatim yang terkenal ke pelosok-pelosok
dunia oleh kepemimpinannya, setelah sekian abad namanya selalu disanjung-sanjung
hingga saat ini. Ia adalah sosok tauladan Pemimpin sejati.
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: