Monday, March 31, 2014

Kehidupan yang Menjerit Tak Bersuara di Ladang Fatamorgana

Aneh. Duniaku ku rasakan semakin aneh dan terasa kian jauh. Entah jauh dari apa. Tapi aku rasa, aku mengejar sesuatu tapi objek itu semakin tidak terlihat. Semakin jauh. Mungkin fatamorgana kehidupan. Menyedihkan.

Dunia ini seperti tak berujung. Saat kita mencapai satu titik, muncul titik-titik lain, lalu kita pun ingin kesana. Daur yang terus berulang. Melelahkan.

Aku teringat, apakah akan seperti ini sampai kita mati? Saat kita belum melakukan apa-apa untuk dunia? Atau setidaknya untuk orang-orang di sekitar kita? Duh, jika begitu adanya, menyedihkan sekali. Aku tak mau hidup seperti itu.

Aku teringat lagi, pada kisah Arthur. Seseorang yang kehilangan ambisi hidup. Arthur tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Semuanya terasa jenuh dan membosankan. Ia telah kehilangan yang paling berharga dalam hidupnya, Keinginan.

Siapa yang menyangka bahwa mimpi adalah sesuatu yang sangat berharga. Tapi sayangnya tidak semua orang yang memiliki mimpi-mimpi besar. Mimpi lah yang mendorong dan mewujudkan dunia khayalan menjadi kenyataan.

Atas saran dari seorang psikolog, Arthur pergi menyendiri ke tepi pantai. Merenungi kembali makna-makna hidupnya. Arthur mencoba mengingat apa-apa saja yang telah terjadi dalam hidupnya--Sejak kecil hingga dewasa--Dan apa saja yang telah dilakukannya. Ternyata ia menemukan alasan yang sederhana, yaitu membahagiakan orang lain. Lalu ia menuliskan masalah-masalahnya di atas pasir itu, namun tak lama kemudia ombak pun menghapusnya dengan mudah. Keyakinannya kembali, yakin bahwa semudah itu pula-lah masalah itu akan hilang.


Aku pun mencobanya. Mencoba kisah Arthur yang mungkin juga berlaku padaku. Pada hukum kehidupanku. Tapi sayang, nyanya tidak. Metode itu hanya berlaku sesaat. Beberapa menit setelahnya kan kembali hilang. Kembali seperti semula. Karena pada kisah Arthur ia lupa akan satu hal, lupa kekuatan dan alasannya untuk hidup. Sumber segalanya ternyata hanya satu; hidup kita pun hanya satu tujuan, mati kita pun hanya untuk satu tujuan, dan apapun langkah kita hanya untuk satu tujuan, yaitu Kembalilah kepada TUHAN.

No comments:

Post a Comment

Name:
Subject:
Messages: