Monday, March 31, 2014

Hedonisme; Racun yang memakan hati

Hedonisme, gaya hidup yang siap melumuri tubuh masyarakat Indonesia

Hedonisme adalah gaya hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mecari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.

Sadar atau tidak perubahan masyarakat (yang katanya modern) bergerak ke arah sana. Pola pikir mereka dibentuk melalui arus sosial yang terus menerus mempengaruhi kehidupan mereka sehingga secara perlahan tanpa sadar mereka terima apa adanya dan menjadi bagian dan menjadi pelaku dari perilaku tersebut.

Tapi bila kau tanyakan maka sudah pasti mereka tidak mau disebut hedonis. Karena mereka memang bukan yang menganut hedonisme tapi perilakunya saja--Yang mungkin tanpa sadar--Mereka bertindak dibawah kendali lingkungannya. Tak sulit untuk menemukan mereka yang berprilaku hedonis. Cukup lihat lingkungan sekitar kita. Pernahkan melihat mereka yang dilumuri tepung dan telur saat ulang tahun? Atau berfoya satu malam suntuk? Pernah lah ya. Sadar atau tidak itulah bagian kecil hidup hedonis.
Dimana tanpa sadar ada jutaan orang diluar sana kekurangan pangan dan kesulitan untuk bertahan. Atau menghamburkan uang dalam jumlah besar untuk kesenangan sesaat.


Mereka bilang demi kesenangan, “Jarang momen-momen kaya gini, sekali-sekali.” Bayangkan jika budaya ini diteruskan? Dan jutaan orang melakukannya. Maka berapa banyak uang--Yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk yang lebih baik--Dibuang dan dihamburkan untuk tertawa beberapa menit? Aku sangat tidak setuju bila kita tertawa di saat ada saudara kita diluar sana menderita. Juga bagi yang belum bekerja, mereka yang tidak pernah memikirkan darimana orang tuanya mendapatkan uang-uang itu. Lalu mereka dengan mudahnya menghambur-hamburkan uang mereka. Oke lah bila orang tuanya kaya, hidup serba bercukupan. Sudahkah ia menyelesaikan tanggung jawab mereka terhadap fakir miskin, anak-anak yatim, dan lain-lainnya? Bila gaya hidup berfoya-foya ini tidak dihentikan, cepat atau lambat maka akan berdampak pada keluarga kita dan setiap orang di negeri ini. Mempengaruhi mereka melalui lingkungan. Dan nilai-nilai masyarakat menjadi buram sehingga tidak ada lagi kehidupan yang beradab dan bernilai. Semua memikirkan kesenangannya saja. Ah semoga tidak. 

No comments:

Post a Comment

Name:
Subject:
Messages: