Hedonisme, gaya
hidup yang siap melumuri tubuh masyarakat Indonesia
Hedonisme adalah
gaya hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mecari
kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan
yang menyakitkan.
Sadar atau tidak
perubahan masyarakat (yang katanya modern) bergerak ke arah sana. Pola pikir
mereka dibentuk melalui arus sosial yang terus menerus mempengaruhi kehidupan
mereka sehingga secara perlahan tanpa sadar mereka terima apa adanya dan
menjadi bagian dan menjadi pelaku dari perilaku tersebut.
Tapi bila kau
tanyakan maka sudah pasti mereka tidak mau disebut hedonis. Karena mereka
memang bukan yang menganut hedonisme tapi perilakunya saja--Yang mungkin tanpa
sadar--Mereka bertindak dibawah kendali lingkungannya. Tak sulit untuk
menemukan mereka yang berprilaku hedonis. Cukup lihat lingkungan sekitar kita.
Pernahkan melihat mereka yang dilumuri tepung dan telur saat ulang tahun? Atau
berfoya satu malam suntuk? Pernah lah ya. Sadar atau tidak itulah bagian kecil
hidup hedonis.
Dimana tanpa
sadar ada jutaan orang diluar sana kekurangan pangan dan kesulitan untuk
bertahan. Atau menghamburkan uang dalam jumlah besar untuk kesenangan sesaat.
Mereka bilang
demi kesenangan, “Jarang momen-momen kaya gini, sekali-sekali.” Bayangkan jika
budaya ini diteruskan? Dan jutaan orang melakukannya. Maka berapa banyak
uang--Yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk yang lebih baik--Dibuang dan
dihamburkan untuk tertawa beberapa menit? Aku sangat tidak setuju bila kita tertawa
di saat ada saudara kita diluar sana menderita. Juga bagi yang belum bekerja,
mereka yang tidak pernah memikirkan darimana orang tuanya mendapatkan uang-uang
itu. Lalu mereka dengan mudahnya menghambur-hamburkan uang mereka. Oke lah bila
orang tuanya kaya, hidup serba bercukupan. Sudahkah ia menyelesaikan tanggung
jawab mereka terhadap fakir miskin, anak-anak yatim, dan lain-lainnya? Bila
gaya hidup berfoya-foya ini tidak dihentikan, cepat atau lambat maka akan
berdampak pada keluarga kita dan setiap orang di negeri ini. Mempengaruhi
mereka melalui lingkungan. Dan nilai-nilai masyarakat menjadi buram sehingga
tidak ada lagi kehidupan yang beradab dan bernilai. Semua memikirkan
kesenangannya saja. Ah semoga tidak.
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: