-HARUN YAHYA-
|
Sebuah tim penggalian situs
purbakala di bawah pimpinan ilmuwan Australia dan Indonesia telah menemukan
sisa-sisa kerangka delapan manusia dengan ukuran tubuh agak pendek dan volume
otak kecil di dalam gua Liang Bua di pulau Flores, Indonesia. Fosil-fosil
tersebut diberi nama Homo floresiensis (Manusia Flores), yang diambil
dari nama pulau tempat ditemukannya fosil tersebut.
Salah satu
kerangka, yang diperkirakan seorang perempuan berusia
30-an tahun dan meninggal sekitar 18.000 tahun lalu, tingginya hanya 1 meter.
Volume otak
wanita itu hanya 380 cc. Informasi ini penting, sebab ukuran otak tersebut
boleh dikatakan kecil, bahkan untuk seekor simpanse sekalipun.
Penyelidikan atas penemuan itu, yang
diperkirakan berlaku paling tidak bagi 8 kerangka tersebut,
menunjukkan bahwa H.
floresiensis hidup di dalam gua ini antara 95.000 dan 12.000 tahun yang
lalu. Pendapat bersama dari para ilmuwan yang meneliti
perkakas dan tulang-belulang hewan yang berhasil
ditemukan dalam penggalian di dalam gua tersebut adalah bahwa individu-individu H. floresiensis
memperlihatkan perilaku kompleks yang memerlukan kemampuan berbicara, dengan
kata lain mereka adalah manusia cerdas yang hidup bermasyarakat dan memiliki
keterampilan
(kemampuan berkarya). Batu-batu yang dipahat dan diasah tajam untuk keperluan tertentu ditemukan
di dalam gua itu, dan keberadaan kerangka hewan memperlihatkan bahwa mereka
adalah para pemburu yang berhasil, yang mampu menangkap binatang-binatang yang
lebih besar dari tubuh mereka sendiri.
Apa yang telah Anda baca sejauh ini
adalah fakta-fakta objektif yang sebenarnya tentang penemuan tersebut. Kini
marilah kita cermati sejumlah pemutarbalikan fakta yang dilakukan oleh para
evolusionis untuk memasukkan penemuan ini agar sesuai dengan mitos evolusi, dan
mari kita pahami bagaimana sebuah penemuan yang sebenarnya memberikan pukulan
keras terhadap Darwinisme ini telah diputarbalikkan menjadi alat propaganda
oleh media massa Darwinis.
Tulisan ini menanggapi pernyataan
evolusionis tentang H. floresiensis yang dibuat dalam laporan
Ntvmsnbc.com, 28 Oktober 2004, dengan judul "Revolution in
Anthropology: The Hobbits" ("Revolusi di Bidang Antropologi:
Manusia Kerdil yang Hidup di Lubang). Dalam laporan ini, Ntvmsnbc.com
mengabarkan penemuan H. floresiensis dengan judul "new
human-like species unearthed" ("spesies baru yang mirip manusia
telah diketemukan"), dan menyatakan bahwa makhluk-makhluk ini muncul di
pulau Flores sebagai hasil dari "proses evolusi yang tidak
diketahui." Alasan mengapa pernyataan ini tidak memiliki keabsahan ilmiah
dijelaskan di bawah ini, dan dukungan membabi buta Ntvmsnbc.com terhadap
Darwinisme pun tersingkap.
PENIPUAN tentang "spesies mirip
manusia"
Alasan mengapa para ilmuwan memilih
memberi nama fosil tersebut H. floresiensis adalah sebagaimana berikut:
ketika para peneliti, yang sedari awal menerima gagasan bahwa manusia muncul
melalui proses evolusi, menemukan fosil yang berasal dari ras-ras manusia zaman
dulu, mereka memberinya nama sedemikian rupa agar cocok dengan mitos evolusi
yang mereka munculkan dalam benak mereka. Metoda yang digunakan untuk melakukan
hal ini didasarkan pada penafsiran yang dilebih-lebihkan tentang variasi (*)
antar ras-ras manusia zaman dulu, dan variasi antara ras-ras tersebut dengan
manusia modern. Dengan cara inilah mereka mengumumkan fosil-fosil tersebut
sebagai "spesies baru."
Fosil-fosil H. floresiensis
juga merupakan produk dari metoda ini, dan penjelasannya sebagai spesies baru
didasarkan hanya pada praduga evolusionis.
Kenyataan yang sebenarnya adalah
bahwa penggambaran H. floresiensis sebagai spesies manusia baru tidak
menambahkan dukungan apa pun terhadap teori evolusi. Sebaliknya, penemuan ini
mengungkap betapa sesungguhnya pernyataan seputar hal tersebut telah
dipaksakan.
1. Mustahil memastikan garis batas
pemisah spesies dengan melihat pada tulang-belulang
Gagasan tentang spesies biologis
digunakan di masa kini untuk makhluk-makhluk hidup yang dimasukkan dalam
kelompok yang sama yang dapat melangsungkan perkawinan dan menghasilkan keturunan
yang sehat. Definisi ini didasarkan pada kemampuan bereproduksi dengan sesama
sebagai garis pemisah antarspesies. Akan tetapi mustahil untuk mengetahui:
dengan makhluk hidup manakah suatu makhluk hidup mampu bereproduksi, hanya
dengan mengamati tulang-belulang yang telah menjadi fosil dari makhluk hidup
yang hidup di masa lampau.
Pengelompokan berdasarkan pada
tingkat kesamaan antar tulang-belulang (dengan kata lain variasi-variasi yang
diperlihatkan di antara mereka) mungkin tidak menghasilkan kesimpulan yang
pasti secara ilmiah. Hal ini dikarenakan meskipun sejumlah spesies (seperti
anjing) memperlihatkan variasi yang besar, spesies lain (seperti citah)
diketahui memiliki hanya sedikit variasi.
Oleh karena itu, ketika fosil yang
berasal dari spesies punah diketemukan, variasi yang teramati mungkin bersumber
pada satu di antara dua sebab. Variasi ini berasal dari satu spesies yang
memiliki variasi yang besar atau dari beberapa spesies berbeda yang menunjukkan
variasi yang sedikit. Akan tetapi tidak ada cara untuk mengetahui mana di
antara dua kemungkinan ini yang benar-benar berlaku. Bahkan, Alan Walker, pakar
paleoantropologi dari Pennsylvania State University, yang juga seorang
evolusionis, mengakui kenyataan ini dengan mengatakan bahwa seseorang tidak
dapat mengetahui apakah suatu fosil merupakan perwakilan dari komunitas
(masyarakat) dari mana ia berasal atau tidak. Dia menyatakan lebih jauh bahwa
seseorang tidak dapat mengetahui apakah fosil tersebut berasal dari salah satu
dari ujung-ujung rentang spesies yang ada, atau di salah satu bagian di
tengahnya. (i)
Richard Potts, seorang evolusionis
dan antropolog lain, yang juga direktur Human Origins Program (Program Asal
Usul Manusia) di Smithsonian Institution, Washington, mengakui kebenaran yang
sama tersebut dalam ucapannya: "Menurut pikiran saya sangatlah sulit untuk
mengatakan, hanya dari tulang-belulang, di mana garis-garis batas pemisah
spesies berada." (ii)
2. Menyatakan keseluruhan ciri suatu
spesies hanya dari sejumlah kecil fosilnya adalah keliru.
Para evolusionis menampilkan
fosil-fosil H. floresiensis sebagai suatu spesies terpisah, dan
menganggap volume otaknya yang kecil dan kerangkanya yang pendek sebagai
ciri-ciri spesies tersebut. Namun, faktanya adalah bahwa individu-individu mungkin
saja tidak membawa seluruh sifat-sifat yang terdapat dalam perbendaharaan gen
populasi (population gene pool, yakni sekumpulan gen-gen yang
memunculkan suatu spesies) di dalam tubuh mereka. Dengan kata lain, ciri-ciri
yang diperlihatkan oleh individu-individu mungkin saja bukan ciri-ciri yang
pada umumnya diperlihatkan dalam populasi tersebut. Dan itulah yang terjadi,
semakin sedikit jumlah fosil yang diteliti, semakin besar kemungkinan
terjadinya kesalahan dalam membuat anggapan bahwa ciri-ciri mereka merupakan
ciri-ciri dari keseluruhan populasi dari mana mereka berasal. Robert Locke,
editor majalah Discovering Archaeology, telah menjelaskan hal ini dengan
sebuah pemisalan sederhana. Dia mengatakan bahwa jika seorang paleoantropolog
masa depan menemukan tulang-belulang milik seorang pemain bola basket
profesional, maka manusia abad dua puluh satu mungkin terlihat sebagai suatu
spesies raksasa. Dia menyatakan lebih lanjut bahwa sebaliknya jika kerangka itu
milik seorang joki, maka kita akan terlihat sebagai makhluk berkaki dua yang
pendek dan kecil. (iii)
Singkatnya, menampilkan H.
floresiensis sebagai suatu spesies terpisah berdasarkan pada volume otaknya
yang kecil dan kerangkanya yang pendek, dan anggapan bahwa keseluruhan individu
(keseluruhan anggota populasi asalnya) memiliki ciri-ciri yang sama tersebut,
adalah sebuah kekeliruan. Fosil-fosil ini mungkin dapat dianggap sebagai
variasi-variasi yang terlihat pada ras-ras manusia masa lampau yang hidup di
zaman itu. Sesungguhnya, itulah kebenaran yang mengemuka ketika pengkajian
terhadap H. floresiensis tidak dibatasi pada segi anatominya saja.
H. floresiensis: RAS MANUSIA ZAMAN DULU
Seorang manusia mungkin saja kerdil,
bervolume otak kecil, memiliki rahang sedikit menonjol atau berdahi sempit. Ia
bahkan mungkin berjalan membungkuk dengan punggung menonjol akibat penyakit
persendian. Akan tetapi, ciri-ciri anatomis seperti itu tidak menjadikan orang
tersebut tergolong dalam suatu spesies di luar manusia.
Orang-orang kerdil modern merupakan
bukti hidup akan hal ini. Menurut situs internet the Guinness Records, Tamara
de Treaux dari Amerika adalah aktor film layar lebar yang tingginya 77 cm (2
kaki 7 inci). Weng Wang asal Filipina adalah seorang aktor pendek lainnya
dengan tinggi badan 83 cm (2 kaki 9 inci). Pasangan pengantin bertubuh
terpendek adalah warga Brazil Douglas da Silva (90 cm / 35 inci) dan Claudia
Rocha (93 cm / 36 inci). (iv)
Persis sebagaimana orang-orang ini,
individu-individu H. floresiensis memiliki kemampuan berkarya dan
kemampuan berbahasa, menjalani kehidupan bermasyarakat dan memiliki kecerdasan.
H. floresiensis sudah pasti merupakan sebuah penemuan penting khususnya
untuk menunjukkan bahwa manusia pada kenyataannya dapat memiliki volume otak
yang sedemikian kecil.
Jadi, bagaimana orang-orang ini bisa
memiliki volume otak yang sedemikian kecil dan kerangka yang pendek?
Dalam
tulisan mereka yang diterbitkan jurnal Nature, (v, vi) para ilmuwan yang menemukan H. floresiensis
menyinggung dua kemungkinan berkenaan dengan ukuran fosil-fosil ini. Yang
pertama adalah kelainan yang muncul sebagai hasil dari mutasi genetis. Salah
satu nama terkemuka dari kelompok penelitian itu, paleoantropolog Peter Brown,
menjelaskan dalam sebuah wawancara yang dimuat dalam situs majalah Scientific
American bagaimana volume otaknya terlalu kecil untuk penderita kelainan
seperti itu (kerdil karena kelainan pada kelenjar pituitary (pituitary
dwarves) atau berkepala kecil sejak lahir (microcephalic dwarves).
Brown mengatakan bahwa tidak ada tanda-tanda kelainan seperti itu telah
ditemukan pada anatomi H. floresiensis, akan tetapi sulit juga
mengesampingkan kemungkinan tersebut (vii). Kemungkinan kedua, yang
lebih menjadi pusat perhatian para ilmuwan, adalah bahwa H. floresiensis
mungkin telah dipengaruhi oleh sebuah proses yang dikenal sebagai dwarfisme
pulau (island dwarfism).
Dwarfisme pulau menjelaskan makhluk
hidup yang terpisahkan secara geografis dari populasi di daratan induk
mengalami pengecilan ukuran tubuh secara bertahap akibat tidak mencukupinya
sumber makanan setempat. Proses ini diketahui dengan baik dari fosil-fosil
mamalia yang ditemukan di pulau-pulau. Misalnya, diperkirakan bahwa gajah
dengan tinggi tubuh 1 meter yang ditemukan di pulau Sisilia dan Malta berubah
menjadi kerdil sedikitnya 5.000 tahun setelah terdampar di pulau tersebut dan
terpisahkan dari gajah-gajah berketinggian 4 meter. (viii) Penjelasan ini
disalah-artikan oleh Ntvmsnbc.com dan H. floresiensis dinyatakan
"telah mengalami sebuah proses evolusi yang tidak diketahui di pulau
tersebut." Namun kenyataannya, dari segi apa pun dwarfisme pulau tidak
mendukung teori evolusi. Suatu makhluk hidup yang mengalami proses pengecilan
ukuran tubuh sama sekali tidak berarti mendapatkan sifat genetis baru apa pun,
dan tidak berubah menjadi makhluk hidup lain. Yang terjadi hanyalah pengecilan
ukuran dalam batas yang dimungkinkan oleh perbendaharaan genetis (genetic
pool)-nya. Oleh karena makhluk hidup baru ataupun sifat baru yang
didasarkan pada informasi genetis yang lebih kompleks tidak muncul, maka tidak
terjadi "evolusi" apa pun di sini. Misalnya, sebuah radio mini yang
dibuat oleh para insinyur masih merupakan sebuah radio, dan tidak ada
perkembangan yang mungkin menjadikannya berfungsi sebagai televisi telah terjadi.
Sama halnya seperti radio mini yang tidak berevolusi menjadi televisi, H.
floresiensis pun tidak berevolusi menjadi bentuk makhluk hidup yang lain.
Oleh sebab itu, pernyataan Ntvmsnbc.com tentang H. floresiensis berisi
propaganda Darwinis tanpa dasar.
PERKAKAS YANG MEREKA GUNAKAN
MERUPAKAN BUKTI BAHWA H. floresiensis ADALAH RAS MANUSIA ZAMAN DULU
Menurut skenario dwarfisme, H.
floresiensis dianggap merupakan garis keturunan dari Homo erectus.
Pembenaran atas dugaan ini adalah sebagai berikut: Pada tahun 1998, M.J.
Morwood, salah seorang peneliti yang menemukan H. floresiensis,
melaporkan bahwa mereka telah menemukan perkakas batu yang berusia sekitar
800.000 tahun di penggalian-penggalian sebelumnya di pulau tersebut. (ix) Tidak hanya perkakas ini
saja yang menyerupai perkakas buatan H. erectus, akan tetapi anatomi
wajah H. floresiensis juga secara umum mirip H. erectus. (x) Tambahan lagi, wilayah Asia Tenggara di mana
pulau tersebut terletak adalah salah satu kawasan tempat H. erectus
hidup dalam rentang waktu yang lama. Sebuah tulisan yang diterbitkan jurnal Science
pada tahun 1996 memaparkan bukti bahwa H. erectus sempat hidup di Jawa,
sebuah pulau di Indonesia seperti halnya Flores, hingga sedekat 27.000 tahun
yang lalu. (xi)
Semua ini menunjukkan bahwa H.
floresiensis adalah satu variasi dari H. erectus dan keduanya
mungkin pernah hidup sezaman selama puluhan ribu tahun. (Meskipun digambarkan
sebagai satu spesies terpisah dari manusia modern oleh para evolusionis, H.
erectus sesungguhnya adalah suatu ras manusia zaman dahulu. Untuk lebih
jelasnya, silakan klik DI SINI dan DI SINI.)
YANG DIUNGKAP H. floresiensis
SEPUTAR MITOS EvoluSI
|
Selama lebih dari seabad hingga
kini, para evolusionis telah menyatakan bahwa terdapat peningkatan volume otak
selama proses evolusi manusia yang dikhayalkan terjadi itu. Mereka juga
mengisahkan mitos bahwa selama proses rekaan ini, manusia memperoleh kemampuan
bernalar, berkarya dan berbahasa lisan yang mereka miliki seiring dengan
perkembangan volume otaknya. Akan tetapi, tak satu pun dari dongeng ini
bernilai ilmiah. Henry Gee, editor jurnal Nature dan seorang evolusionis
yang telah menulis banyak tulisan dan buku tentang evolusi, mengakui hal yang
sama dalam bukunya In Search of Deep Time:
Sebagai contoh, evolusi manusia
dikatakan telah didorong oleh perbaikan dalam hal perawakan, ukuran otak, dan
koordinasi antara tangan dan mata, yang mengarah pada pencapaian teknologi
seperti api, pembuatan perkakas, dan penggunaan bahasa. Tapi skenario seperti
ini bersifat subjektif. Semua itu tidak akan pernah dapat diuji melalui
percobaan, dan karenanya hal tersebut tidaklah ilmiah. (xii)
Dengan ditemukannya H.
floresiensis, mitos bahwa kecerdasan manusia muncul bersamaan dengan
peningkatan ukuran otak kini telah semakin menjadi tidak dapat dipercaya. Hal
tersebut dikarenakan H. floresiensis, dengan volume otak tak lebih besar
dari simpanse, memperlihatkan perilaku yang tidak berbeda dengan manusia yang
berotak besar. Oleh karenanya, ini membuktikan bahwa kecerdasan dan kemampuan
mental manusia tidaklah sebanding dengan ukuran otak.
Itulah maksud sesungguhnya dari
perkataan Henry Gee dalam menafsirkan penemuan H. floresiensis:
"Keseluruhan anggapan bahwa Anda membutuhkan ukuran otak tertentu untuk
melakukan sesuatu yang cerdas telah sama sekali dipatahkan oleh penemuan
ini." (xiii)
"WANITA MUNGIL DARI FLORES
MEMAKSA PENINJAUAN KEMBALI SKENARIO evolusi manusia"
Keterkejutan yang sesungguhnya bagi
para evolusionis datang dari pengetahuan bahwa apa yang diyakini sebagai
hominid (keluarga manusia modern) dengan volume otak yang sedemikian kecil itu
hidup bukan berjuta-juta tahun lampau, melainkan hanya 18.000 tahun lalu. Chris
Stringer dari Museum Natural History di London mengakui keheranannya
sebagaimana berikut:
"Ini adalah makhluk dengan otak
seukuran otak simpanse, akan tetapi nampaknya [ia] seorang pembuat perkakas dan
pemburu, dan mungkin dilahirkan sebagai keturunan dari pelaut pertama di dunia.
Keberadaannya menunjukkan betapa sedikitnya kita tahu tentang evolusi manusia.
Saya tidak pernah dapat membayangkan sesosok makhluk seperti ini, yang hidup
sedemikian dekat dengan zaman sekarang." (xiv)
Peter Brown, salah seorang pemimpin
kelompok penelitian itu, menggambarkan keterkejutannya ketika dia mengukur
tengkorak tersebut, dan mengakui bahwa H. floresiensis sama sekali tidak
bersesuaian dengan skenario evolusi: "Ukuran tubuh yang kecil mudah
diterima, tapi ukuran otak yang kecil adalah sebuah permasalahan yang lebih
besar - masih hingga kini." (xv)
Layanan berita jurnal Nature
yang menerbitkan penemuan H. floresiensis merangkum permasalahan yang
sulit dan membingungkan yang menghadang para evolusionis dengan judul utama
yang dipilihnya, "Little Lady of Flores Forces Rethink of Human
Evolution" ("Wanita Mungil dari Flores Memaksa Peninjauan Kembali
[Skenario] Evolusi Manusia").
PERMASALAHAN, KETERKEJUTAN,
PERNYATAAN MEMBINGUNGKAN, SEBUAH TEORI YANG PERLU PENINJAUAN ULANG…
Pernyataan-pernyataan para
evolusionis sendiri mencerminkan pukulan berat yang diberikan oleh fosil
tersebut terhadap skenario khayalan evolusi manusia. Lebih jauh lagi,
penggambaran fosil-fosil ini sebagai bukti bagi evolusi di berbagai media
menunjukkan sekali lagi bahwa Darwinisme adalah sebuah sistem kepercayaan yang
dipertahankan secara membabi buta agar tetap hidup meskipun bertentangan dengan
fakta, karena para evolusionis masih saja menolak meninggalkan teori mereka di
hadapan berbagai penemuan fosil yang baru-baru ini telah sama sekali
meluluhlantakkan mitos yang mereka ajarkan tanpa kenal lelah selama
bertahun-tahun. Nyatanya, kaum evolusionis menyembunyikan setiap sanggahan baru
yang melemahkan skenario mereka melalui penemuan-penemuan baru dengan
mengatakan, "itu berarti kita berevolusi tidak dengan cara ini, tapi cara
itu," dan mereka masih saja berupaya keras mempertahankan mitos evolusi,
yang mereka dukung secara membabi buta, agar terus hidup di balik topeng
ilmiah.
KESIMPULAN:
Muslihat yang dilakukan para
evolusionis dengan menafsirkan variasi pada tulang-belulang zaman dulu menurut
prasangka mereka sendiri berisi skenario khayalan evolusi manusia menurut alur
yang mereka kehendaki. Perlu dipahami bahwa memberitakan dongeng khayal yang
didasarkan pada kemiripan tulang-belulang adalah kegiatan yang tidak bermakna
di hadapan fakta yang sesungguhnya.
Organ tubuh yang dimiliki manusia,
seperti mata, telinga dan jantung, memperlihatkan kerumitan yang kemunculannya
tidak dapat dijelaskan melalui peristiwa acak yang tidak disengaja. Ilmu
pengetahuan modern telah mengungkap bahwa ketidaksengajaan (kebetulan) tidak
memiliki kemampuan untuk membentuk satu saja dari puluhan ribu protein yang
terdapat di dalam satu sel di antara seluruh triliunan sel dalam tubuh manusia,
apalagi membentuk keseluruhan organnya.
Dengan organ dan sistem sempurna
yang mereka miliki, manusia memperlihatkan keberadaan perancangan yang nyata.
Buku-buku pelajaran dan ensiklopedia kedokteran membeberkan tingkat pengetahuan
kompleks yang mendasari perancangan manusia tersebut. Tak ada keraguan bahwa
asal mula manusia, yang memiliki rancangan sempurna berdasarkan pengetahuan,
adalah "penciptaan."
Adalah Tuhan Yang Mahabesar,
Pencipta Segala Sesuatu, Yang menciptakan manusia, dan Dia tidak memiliki
sekutu dalam Penciptaan makhluk-Nya. Kebenaran ini telah dinyatakan dalam Al
Qur'an:
"Apakah kamu kafir kepada
(Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu
Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya
bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan
Tuhanku." (QS. Al Kahfi, 18:37-38)
(*) Istilah variasi digunakan
dalam biologi untuk memaparkan perbedaan-perbedaan dari sebuah bentuk, fungsi
atau struktur yang diketahui. Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan
suatu makhluk hidup yang memperlihatkan perbedaan-perbedaan semacam itu.
i Robert
Locke, The first human?, Discovering Archaeology, Juli - Agustus 1999, h. 36 
ii Julianna Kettlewell, "Skull fuels Homo erectus debate", 2 Juli 2004, http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/3857113.stm
iii Robert Locke, ibid
iv Carl Wieland, "Soggy dwarf bones", http://answersingenesis.org/docs2004/1028dwarf.asp
v Brown P. et al. Nature, 431. 1055 - 1061 (2004).
vi Morwood M. J. et al. Nature, 431. 1087 - 1091(2004)
vii Kate Wong, "Digging Deeper: Q&A with Peter Brown", 27 Oktober 2004, http://sciam.com/article.cfm?chanID=sa004&articleID=00082F87-7D35-117E-BD3583414B7F0000
viii Lister A., et al. Symposia of the Zoological Society of London, 69. 277 - 292 (1996); Marta Mirazon Lahr & Robert Foley, "Human evolution writ small", 27 Oktober 2004, http://www.nature.com/news/2004/041025/full/4311043a.html
ix Morwood M. J. et al. Nature, 392. 173 - 176 (1998)
x Marta Mirazon Lahr & Robert Foley, "Human evolution writ small", 27 Oktober 2004, http://www.nature.com/news/2004/041025/full/4311043a.html
xi C. C. Swisher III, W. J. Rink, S. C. Antón, H. P. Schwarcz, G. H. Curtis, A. Suprijo, "Latest Homo erectus of Java: Potential Contemporaneity with Homo sapiens in Southeast
Asia" Science, Vol 274, Issue 5294, 1870-1874 , 13 Desember 1996
xii Henry Gee, In Search Of Deep Time: Beyond The Fossil Record To A New Hýstory Of Life, The Free Press, A Division of Simon & Schuster, Inc., 1999, h. 5
xiii 'Hobbit' joins human family tree, 27 Oktober 2004, http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/3948165.stm
xiv "Our not so distant relative", The Guardian, 28 Oktober 2004, http://www.guardian.co.uk/life/feature/story/0,13026,1337198,00.html
xv " Our not so distant relative", The Guardian, 28 Oktober 2004.
Sumber: www.pakdenono.com/artikelharunyahyaii Julianna Kettlewell, "Skull fuels Homo erectus debate", 2 Juli 2004, http://news.bbc.co.uk/1/hi/sci/tech/3857113.stm
iii Robert Locke, ibid
iv Carl Wieland, "Soggy dwarf bones", http://answersingenesis.org/docs2004/1028dwarf.asp
v Brown P. et al. Nature, 431. 1055 - 1061 (2004).
vi Morwood M. J. et al. Nature, 431. 1087 - 1091(2004)
vii Kate Wong, "Digging Deeper: Q&A with Peter Brown", 27 Oktober 2004, http://sciam.com/article.cfm?chanID=sa004&articleID=00082F87-7D35-117E-BD3583414B7F0000
viii Lister A., et al. Symposia of the Zoological Society of London, 69. 277 - 292 (1996); Marta Mirazon Lahr & Robert Foley, "Human evolution writ small", 27 Oktober 2004, http://www.nature.com/news/2004/041025/full/4311043a.html
ix Morwood M. J. et al. Nature, 392. 173 - 176 (1998)
x Marta Mirazon Lahr & Robert Foley, "Human evolution writ small", 27 Oktober 2004, http://www.nature.com/news/2004/041025/full/4311043a.html
xi C. C. Swisher III, W. J. Rink, S. C. Antón, H. P. Schwarcz, G. H. Curtis, A. Suprijo, "Latest Homo erectus of Java: Potential Contemporaneity with Homo sapiens in Southeast
Asia" Science, Vol 274, Issue 5294, 1870-1874 , 13 Desember 1996
xii Henry Gee, In Search Of Deep Time: Beyond The Fossil Record To A New Hýstory Of Life, The Free Press, A Division of Simon & Schuster, Inc., 1999, h. 5
xiii 'Hobbit' joins human family tree, 27 Oktober 2004, http://news.bbc.co.uk/2/hi/science/nature/3948165.stm
xiv "Our not so distant relative", The Guardian, 28 Oktober 2004, http://www.guardian.co.uk/life/feature/story/0,13026,1337198,00.html
xv " Our not so distant relative", The Guardian, 28 Oktober 2004.
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: