Organisasi mahasiswa agaknya berbeda dengan organisasi-organisasi pada umumnya. Perbedaan itu terlihat pada ideologi yang dianut dan cara yang disampaikan oleh mahasiswa dari organisasi. Dalam koridor yang benar organisasi tidak boleh dibawahi kepentingan individu atau sekelompok elite yang memiliki kepentingan tertentu. Organisasi mahasiswa bukanlah organisasi profit / organisasi non profit yang bergerak untuk membela kebenaran dan menegakkan moral terhadap tatanan yang ada.
Sudah menjadi hal lazim dan keharusan apabila mahasiswa terus mengkritisi kinerja petinggi negeri ini untuk tetap bekerja sesuai apa yang diharapkan oleh rakyat/ masyarakat dengan mempertimbangkan azas kebenaran dan moral.
Bergabung kedalam organisasi mahasiswa berarti secara mutlak pihak yang bersangkutan siap untuk memberikan sesuatu/ melakukan pengorbanan. Entah itu aspirasi, gerakan, tenaga, sumbangan dana, dan lain-lainnya. Karena organisasi tidak pernah menjanjikan apa-apa. Yang ada hanya waktu yang tersita, tenaga yang terkuras, kantong yang keluar, dan emosi-emosi yang siap meledak kapan saja. Namun bila berhasil menaklukkan itu semua ada satu yang tak bisa dihindarkan dan semua orang memimpikannya, yaitu kematangan dan kedewasaan.
Pemikiran yang dibebaskan dari belenggu diri yang ditunjang oleh pemikiran-pemikiran dan pemaksaan terhadap menganalisis permasalahan menjadikan pribadi seseorang lebih siap dan menjadi lebih peduli terhadap dianamika zaman sehingga diharapkan mahasiswa menjadi individu aktif dan konstributif dalam kemajuan bangsa yang lebih baik dan kehidupan yang lebih beradab.
Sayangnya, tidak semua mahasiswa memahami hakikat dari organisasi mahasiswa itu sendiri. Popularitas dan kepentingan-kepentingan lain seperti mencari pasangan dan lain sebagainya tidak dapat dipungkiri. Walaupun tidak salah secara mutlak namun tujuan tersebut tidak sesuai dengan jiwa organisasi mahasiswa. Dalam organisasi mahasiswa adakalanya eksistensi bukanlah sesuatu yang harus diprioritaskan. Kinerja dan kerja adalah hal yang terpenting dari itu semua. Mungkin tidak salah bila kepentingan-kepentingan lain seperti diatas bila dianggap sebagai bonus atau sebagai apresiasi atas kerja keras mahasiswa dalam pengabdian di organisasi.
Jika organisasi bergerak atas ideologi eksistensi maka yang ada hanyalah perlombaan untuk mengadakan berbagai acara-acara yang lebih besar tanpa melihat makna dan tujuan dari kegiatan itu sendiri. Sangat disayangkan.
Bila kehendak elite politik atau petinggi negara menghendaki mahasiswa hanya untuk belajar atau ”Mahasiswa itu belajar sajalah.” sesungguhnya hal tersebut akan mematikan kreativitas dan daya kritis serta tingkat kepedulian mahasiswa terhadap dinamika yang terus terjadi. Apabila ini terjadi secara berkelanjutan maka akan timbul decreasing moral dan kehilangan akan semangat gotong royong--Sebagai karakter rakyat Indonesia yang sebenarnya--Dimana karakter ini mulai memudar. Yang ada hanyalah mementingkan kehidupan sendiri tanpa mementingkan art dan makna dari hidup itu sendiri. Hidup hany untuk diri sendiri maka tidak akan ada bedanya adanya kita di dunia hidup ini atau tidak. Hidup hanya akan bermakna hanya dengan memberikan manfaat kepada orang lain.
Contoh kecilnya. Bayangkan saja apabila ada seseorang yang terus bergulat dengan zat-zat kimia dalam laboratorium. Masuk jam 08.00 keluar jam 16.00. Makan pulang-tidur. Tanpa ia tahu akan dinamika yang sedang terjadi. Sebenarnya ia adalah orang yang baik dan mulia. Namun sikap apatisnya telah membuat negerinya dipimpin oleh orang-orang yang mementingkan kehidupannya sendiri. Sumberdaya alam dan uang negara habis sehingga lama-kelamaan akan berdampak pada kehidupannya sendiri. Anak cucunya tidak mendapat bagian dari apa dari apa yang telah menjadi haknya.
Kembali pada hakikat organisasi. Ideologi dan pandangan Eksistensi dan Populer harus dihilangkan dari benak mahasiswa. Jiwa pengorbanan dan makna dari sebuah kegiatan harus lebih diperhatikan. Pertimbangan manfaat dan tujuannya, mengembalikan roh organisasi itu sendiri.
Bila memang tidak siap untuk melakukan itu semua dan tidak mau belajar agar diri berkembang lebih baik tidak usah masuk organisasi. Fatal akibatnya. Sudahlah image buruk di depan orang lain juga dapat menjadi penyakit bagi anggota lain sehingga kehilangan spirit untuk bertindak.
Sebagai mahasiswa dan manusia yang merdeka jangan pernah takut untuk berkembang. Kehidupan sejati adalah perubahan dan menjadi sesuatu yang lebih bermakna setiap harinya. Berkembang untuk semakin matang, lebih dewasa, lebih tangguh, dan bijaksana sehingga menjadi tumpuan harapan rakyat kecil dan pembawa pembaharuan baru di dunia. Bukankah menyenangkan apabila kita mampu menjadi dari pemimpin perubahan? Orang yang disegani dan selalu diharapkan kedatangannya? Orang yang mampu memberikan solusi di tengah permasalahan, dan harapan setiap orang? Menakjubkan seandainya itu terjadi.
Lalu untuk apa kita melakukan semua itu? Apa yang kita dapat setelah melakukan semua itu? Atas pengorbanan yang kita lakukan; atas waktu yang kita korbankan, atas tenaga yang kita curahkan, hanya untuk kebahagiaan orang lain? Maka jawabnya, “Iya!” Tuhan telah menciptakan fitrah bagi manusia bahwa akan ada kebahagiaan sejati apabila ia mampu menjadi sesuatu yang bermakna bagi orang lain. Atas dasar apa melakukan itu semua? Yaitu atas dasar pengabdian kepada Allah Yang Maha Esa, Rabb Yang Maha Menciptakan, dan Mengkehendaki sesuatu yang baik. Menguji hamba-Nya melalui luka dan kepedihan, serta kenikmatan. Tidak ada alasan yang paling kuat dibandingkan pengabdian kepada Tuhan. Hanya pengabdian kepada Tuhan-lah yang membuat orang mau melakukan apapun.
Pada akhirnya organisasi hanyalah wadah. Persis seperti motor. Kemana ia akan dibawa, kemana ia pergi tergantung siapa yang mengendarainya. Ia hanya memiliki peta dan tujuan, yaitu ADRT/dasar pelaksanaan organisasi. Namun seberapa hebat organisasi itu berjalan tergantung pengendaranya.
Akhir kata, Bila ingin maju berOrganisasilah. Kau akan maju dan berkembang. Jika tidak percaya maka perhatikan lingkungan sekitar. Akan ada perbedaan yang besar antaramahasiswa yang ikut organisasi dengan yang tidak pada saat lulus dan di dunia kerja kelak. Ada perbedaan yang mencolok. Dengan catatan mahasiswa tersebut memang memiliki konstribusi di organisasi. Bukan dari segi uangnya tapi responnya terhadap menanggapi suatu permasalahan. Hanya di organisai kita berbuat dalam sistem, belajar menciptakan sistem, mengemukakan pemikiran dan kritikan yang membuat mahasiswa kritis, kerjasama dengan ragam manusia, dan lain-lainnya.
Salam, semoga Allah merahmati kita, Aamiin.
-Habibullah Boktobibi-
Dharmasraya, Yogyakarta
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: