BOKTO: Dikutip dari sebuah artikel, dalam Islam arti politik adalah ri’ayatusy syu’unil ummah dakhliyan wa kharijiyan bi hukmnin mu’ayanin, yaitu pengaturan umat di dalam dan luar negeri, dengan hukuman tertentu.
Pada dasarnya politik adalah hal yang mulia karena di dalamnya terdapat aktivitas untuk mengurusi kepentingan umat, memenuhi berbagai kebutuhannya, pembinaan terhadap umat, mencerahkan pemikiran umat dan mencerdaskannya agar dapat menyelesaikan problematika dengan aturan yang benar, yaitu aturan Allah; Tuhan Semesta Alam.
Dalam politik saat ini tidak ada kawan yang abadi, dan tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Inilah salah satu dampak buruk sistem demokrasi yang mulai sekuler--memisahkan dunia dengan agama.
Demokrasi Indonesia tidak akan pernah mencapai keadilan sejati karena segala bentuk hukumnya berasal dari pemikiran rakyat bukan aturan Tuhan.
Dewasa ini, politik dan kursi pemerintahan dijadikan ladang untuk mencari keuntungan dan tempat untuk mengayakan diri, bukan eksplorasi diri. Bagaimana tidak, kekuasaan yang menggiurkan dan uang yang merajalela untuk dikuasai. Padahal, jika umat manusia tahu bahwa menjadi Pemimpin adalah amanah yang berat maka akan sedikit yang akan mengajukan diri. Bukan hanya tanggung jawab di dunia tapi juga di Akhirat kelak kepada Tuhan Yang Maha Esa, amanah yang bisa menghalangi manusia masuk ke Jannah-Nya.
Tapi sekali-sekali tidak. Manusia terus berlomba untuk menduduki kursi pemerintahan. Katanya demi kepentingan rakyat. Mereka mengorbankan jutaan dan uang milyaran rupiah untk memastikan satu kursi di gedung pemerintahan. Masing-masing menjual dirinya. Sayangnya, kebanyakan yang dijual bukan integritas dan track record melainkan popularitas. Sebenarnya tidak sepenuhnya juga salah mereka. Karena itulah permintaan demokrasi bebas. Siapa yang populer dialah yang terpilih. Dari hal tersebut dapat kita ketahui bahwa sistem pemerintahan di Negara ini juga sedang bermasalah, bukan hanya pemimpinnya.
Sistem Pemerintahan di Indonesia menjebak pelaku-pelaku politik. Dari seorang agamis dan negarawan menjadi orang yang tidak dikehendaki di dalam masyarakat. Penjelmaan menjadi koruptor hingga konspirator. Sistem memberikan kesempatan kepada orang-orang di roda pemerintahan dan secara tidak langsung menjadikan mereka dalam perilaku menyimpang. Inilah yang perlu kita sadari bersama. Ada hal yang janggal dalam pesta demokrasi yang terlalu bebas ini.
Seorang politikus seharusnya tidak diambil dari orang yang mementingkan dirinya sendiri melainkan orang yang ideologis/idealis, mementingkan kepentingan umat diatas kepentingan pribadi dan kelompok. Tujuan hidupnya adalah pengabdian. Bukan hidup untuk materi dan bergelimang uang. Materi dan uang baginya hanyalah alat dan sarana untuk mencapai tujuan, bukan tujuan utama. Dalam hal ini contohlah Bung Hatta. Seorang idealis dan Negarawan. Kehidupannya sederhana namun siapapun tahu perannya di dunia ini.
Bung Hatta tidak hidup bergelimang materi. Bahkan saat meninggal sekalipun dia tidak meninggalkan harta melainkan buku-buku--Ilmu yang dapat diwariskan, yang menjaga kehidupan rakyatnya. Ekstrimnya, keluarga Bung Hatta bahkan sempat menunggak untuk membayar listrik. Walau ia seorang Wakil Presiden sebuah Republik yang besar. Sejarah mengukir namanya indah. Tapi sayang nilai-nilai yang ingin beliau wariskan hanya terpajang di buku-buku dan menjadi dongeng. Tidak pernah diikuti untuk dijadikan teladan. Seharusnya seperti itulah sikap seorang politikus yang sebenarnya. Hidupnya sebagai lambang pengabdian kepada Tuhan bukan orientasi kekuasaan.
Memang benar bahwa Indonesia bukan hanya terdiri dari Islam. Indonesia adalah masyarakat heterogenitas--Terdapat bermacam suku dan agama. Akan tetapi jika mayoritas rakyatnya adalah golongan zalim maka zalimlah hukuman dan perundangan yang akan berlaku. Tidak ada yang dapat memastikan bahwa manusia itu selamanya baik. Bila itu terjadi dunia hanya akan berjalan berdasarkan kemauan mayoritas bukan kebenaran dan keadilan. Banyak pula umat islam tertipu saat tipu daya toleransi memasuki pemikiran umat islam sehingga tidak berani berbuat banyak dalam memperjuangkan kepentingan Islam. Bahkan ekstrimnya umat islam itu sendiri menyalahkan apa yang diperjuang saudaranya seiman.
4 Poin yang dipuja-puja pesta Demokrasi Indonesia:
1. Kebebasan Individu
2. Kebebasan Berpendapat
3. Kebebasan Beragama
4. Kebebasan Kepemilikan
Aturan Allah tidak memiliki tempat didalamya. Umat Islam butuh taktik, strategi, dan sistem, kemudian Gerakan. Harus ada pembaharuan jika ingin negeri ini berubah. Gerakan dilancarkan untuk menghentikan sistem yang merusak. Digerakkan melalui strategi dan taktik, kemudian setelah berhasil diletakkan sistem yang telah disusun sebelumnya.
Dalam Demokrasi hukum dan aturan dapat diotak-atik sesuai kepentingan orang-orang yang berkuasa juga orang-orang yang berduit. Kedaulatan ada di tangan pemilik modal (orang ber(Uang)), meski selalu dikoar-koarkan kedaulatan rakyat. Sudah saatnya kita berubah.
# Jayalah Bangsaku, Jayalah Indonesia!
Seorang Koto Salak, Dharmasraya,
-Habibullah Boktobibi-
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: