Cinta memang mengubah segalanya. Ketika kita menjadi terlalu berhati-hati dalam bertindak. Menjadi diam dalam kegairahan. Mengubah kebiasaan kita pada aslinya. Dan kadang menjadi murung, kadang tiba-tiba menjadi bersemangat. Pikiran bebas namun terbelenggu, terbelenggu untuk memikirkan sang cakrawala, bintang kejora yang memberikan harapan baru.
Jantung berdebar lebih cepat dari biasanya, mata terus mencari sang bidadari agar hati tenang. Coba saja ia didekati orang lain maka tiba-tiba suasana akan berganti. Cemburu. Aneh rasanya ketika kita menjadi berbeda karena terfokus pada seorang manusia. Membayangkan diri hidup bersama dalam mahligai-mahligai dunia, membayangkan hidup berdua dibawah purnama di taman berbunga, terang, dan hanya ada bahagia.
Engkau tersenyum tulus padaku, senyumnya bercahaya, menatap penuh cinta, berbaring berdua sambil menunjuk bintang-bintang. Mengukir janji-janji kesetiaan. Berjanji kau akan tetap bersamaku dan tetap berbahagia denganku.
Kita tahu dunia ini bukan milik kita, kita juga tidak punya segalanya untuk hidup berdua, namun kita tahu bahwa kita sama-sama berjuang. Berjuang untuk terus bersama dan saling membahagiakan satu sama lain. Janji-janji yang terus aku khayalkan setiap hari. Namun dunia selalu berubah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, lusa, dan setelahnya. Yang aku tahu hari ini engkau membawa harapan-harapan baru akan ada hari-hari bahagia bersamamu. Walau sayang kita adalah orang yang pendiam. Yang memendam hingga palung yang paling dalam. Tidak akan ada yang tahu tentang perasaan kita. Apakah kita akan menunggu keajaiban datang, menunggu kekuatan diluar diri datang untuk kebahagiaan kita? Kita sama-sama egois. Atau mungkin terlalu sadis membunuh perasaan itu. Membiarkannya terlantar walau ia meronta-ronta. Atau jangan-jangan kita terlalu malu dengan diri masing-masing.
Di suatu masa di masa depan aku membayangkan sebuah masa di musim gugur. Nun jauh disana di negeri orang. Pada masa itu pepohonan menggugurkan dedaunan dan bunga-bunganya nan merah ranum, lalu aku melihat berjejer di dekat trotoar jalan raya yang sepi. Hari itu masih pagi, udara segar dapat kau rasakan di ujung hidungmu.
Habibullah Boktobibi
(My lovely Koto Salak, Dharmasraya)
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: