Balada Negeri
Sesuatu di dalam jiwa tak terperi
Melihat dedaunan jatuh berserakan di tengah gedung mewah. Tumbang.
Hah pranata negara? Hanyalah hitam di atas putih, jikalau tidak Mana mungkin Anak Ayam Mati bergelimpangan diantara selokan
Bolehlah katanya madu. Madu memang, tapi madu setitik diisi racun seliter. Mati anak Ayam. Ular licik.
Diantara ular-ular itu ada cacing-cacing menggerogoti tubuh dari dalam. Tubuh yang lengah atau tak sadar telurnya masuk melalui udara.
Negeri ini subur, negeri ini kaya, fakta. tapi anak ayam disuruh makan nasi batu, lauknya besi, sambelnya tahi
Lautannya pun banyak. Maritim katanya.
Mau makan apa ‘kau? Cari saja di negeriku. Negeri kaya. Penuh emas. Begunung uranium.
Namun semua hendak berubah. Tanah subur berubah bangunan-banguna tinggi.
Kekayaan itu mana pernah diraih?
Ular-ular licik itu memberikannya kepada asing! Kepada macan, kepada monyet, kepada anjing.
Tak Tahu Malu. Saat bertemu, dia tersenyum, tidak terjadi apa-apa.
Ular pandai, Licik.
Sebenarnya aku tidak terlalu peduli lagi pada ular-ular itu. Mereka tua, cepat lambat kulitnya akan mengelupas. Lalu Mati.
Yang aku takut, anak-anak ayam yang mulai berkokok berubah menjadi srigala. Aku takut mimpi buruk ini menjadi siklus hitam.
**Puisi ini menceritakan tentang kedukaan pada negeri ini, dengan kata kunci kemiskinan, penjajahan oleh negara, orang awam, pemerintahan--yang katanya orang-orang pandai, ideologi barat, penjajahan pemikiran, kerakusan penguasa, pebisnis kapitalis, mahasiswa.
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: