Catatan Pare, Kediri
Pagi yang sederhana untuk memulai hari. Kelas dimulai jam 05.00 am--Sama seperti biasanya. Sayangnya, mataku pagi ini bangun sedikit terlambat. Untung ada Khanza seorang mahasiswi Univ. Diponegoro--membangunkanku. Yang lain tidak tahu apa gerangannya mengapa tidak membangunkan yang lain. Mungkin masih ngantuk.
Malam tadi bergadang cukup lama hingga larut malam, mencoba mengukir kenangan bersama anak-anak di tempat kursus ini dengan bermain ware wolf games; sebuah permainan yang membutuhkan analisis dengan menggunakan kartu tertentu sebagai alat identitas. Jika kau ingin tahu kapan-kapan saja-lah kita main bersama. Itu pun jikalau sempat. Cukup seru dan menyenangkan bersama anak-anak kursus disini. Walau perbedaan umur cukup mencolok namun tidak dengan cara mereka berinteraksi. Semua melebur seakan semua seumuran. Enjoy sekali.
Kita kembali pada pagi ini. Programme sudah dimulai ketika aku datang. Tutornya baru saja menyelesaikan beberapa vocab baru bagi Unisefer 27th Jan’14. Tutornya mengajar dengan sangat ramah, mencoba menyelaraskan semua kemampuan peserta, sehingga tidak terjadi kesenjangan, dia bilang we growth up together here.
Entahlah, beberapa hari ini aku terus berpikir aku akan merindukan suasana disini, merindukan teman-teman baru ini, merindukan civitas Unisef yang ramah dan bersahabat. Aku tidak merasa asing disini. Beda dari awal mula datang.
Aku tidak tahu siapa lagi yang akan datang dalam minggu ini. Dalam beberapa hari terakhir ada Newbie yang datang, atau anak-anak biasa menyebutnya Newcomer.
Pagi ini aku mencoba lebih banyak diam dari biasanya. Aku tidak ingin terlihat mendominasii kelas, tidak enak menganggu mereka. Berikan kesempatan kepada pendatang baru untuk beradaptasi dan merasa memiliki. Itu penting.
Ada sedikit yang berbeda cara MR. Takdir (Tutor kami) mengajar hari ini. Dia mengajak para peserta didik untuk menghafal sambil jalan santai (Jogging) menelusuri jalan perumahan sekitar. Setelah mencatat vocabs kami pun segera keluar untuk memulai jogging. Cukup menyenangkan.
Pagi ini kami dibagi menjadi 2/2, maksudnya Couples. Aku berpasangan dengan Mrs. Fitroh, seorang dosen UIN Jakarta yang berkacamata. Ia sedang mengambil Overseas Post-graduate Scholarship, datang kesini untuk memenuhi syarat beasiswanya. Entah kenapa pagi ini tidak seperti hari lain--tidak bersama Khanza. Biasanya dia selalu menjadi bagian/pasanganku di setiap pembagian kelompok. Tapi kali ini tidak, dia berpasangan dengan MR. Darmuji, seorang kepala sekolah dan guru di Bekasi.
Kami berjalan beriringan dengan pasangan masing-masing sembari menghafal vocabs baru yang diberikan MR. Takdir. Aku dan Mrs. Fitroh berada paling depan dari semua peserta. Paling depan sekali. Sedangkan Khanza tepat dibelakangku. Semua peserta sibuk dengan pasangan masing-masing, saling membantu untuk menghafal vocabs baru.
Sepanjang perjalanan kira-kira 50 meter pertama hanya terlihat pemukiman penduduk. Tidak terlalu mewah, sederhana saja, layaknya perumahan pada umumnya. Selama kami berjalan hanya sedikit menjumpai penduduk, hanya banyak kendaraan bermotor yang lewat. Mungkin mereka masih tidur atau sudah pergi beraktivitas sebelum kami datang.
Kami tiba di sebuah simpang, disana ada jembatan kecil yang mengarah ke utara, ada bambu-bambu disekitarnya, lalu dibawahnya air mengalir deras, kotor, tapi tidak riuh sehingga tidak akan menganggumu. Panjang jembatan itu sekitar 3-4 meter dengan lebar 2 meter saja. Jika berjalan lurus dari arah kami kau akan mendapati jalan tanpa aspal, alias jalan tanah. Jika belok ke kanan kau akan melewati jembatan kecil itu.
Udara pagi ini cukup segar dan dingin. Sambil melepas lelah di sepanjang pemandangan sebelah kiri kami melihat hamparan sawah petani Pare, terbentang luas ditanami jagung, padi, dan bawang.
Oh iya aku hampir saja lupa, di dekat kami (Tidak jauh dari jembatan) ada sebuah pondok kecil, lebih tepatnya seperti warung yang tidak dihuni, tapi kursinya masih layak untuk diduduki, dan kelihatannya sering digunakan oleh orang singgah. Beberapa dari kami duduk di pondok ini.
Setelah semua berkumpul, vocabs yang telah kami hafal harus disetorkan kepada MR. Takdir--Seperti biasanya, disetor setelah dihafal beberapa menit. Mrs. Fitroh dan aku maju pertama. Karena tidak ingin lama-lama bergelut dengan vocabs lebih baik disetorkan secepatnya. Kami menyetorkannya sembari duduk di jembatan kecil ini. Semua hafalan berjalan lancar tanpa kendala. Bagi yang telah menyelesaikan setoran vocabs diminta membantu teman yang lain untuk menyetorkan hafalan vocabsnya. Caranya dengan menyimak hafalannya.
From A to Z berjalan sebagaimana mestinya. Dalam sela-sela waktu itu, anak-anak menyempatkan diri untuk berfoto bersama, narsis-narsisan, untuk dibawa pulang menjadi kenangan.
Setelahnya tidak ada hal menarik yang bisa diceritakan. Semua pulang tapi tidak dengan pasangan masing-masing. Semua berpencar hingga terkadang menganggu pengguna jalan lain yang lewat dengan kendaraan bermotor. Tapi tampaknya mereka cuek, mereka tetap berjalan menguasai jalan.
Tapi apapun dan bagaimana pun mereka. Suatu saat aku masih ingin bertemu dan berjalan bersama mereka. Semoga mereka tumbuh menjadi laki-laki dan gadis yang baik.
Always miss My Dharmasraya, Koto Salak.
Habibullah Boktobibi
No comments:
Post a Comment
Name:
Subject:
Messages: